Bab 58. Peluru yang Salah Alamat "Tundukkan kepalamu, Rafael! Jangan jadi sasaran empuk!" suara Luca menggelegar dari radio komunikasi, disusul suara rentetan senjata otomatis yang merobek dinding kayu gudang. Rafael tidak perlu diperintah dua kali. Ia melompat ke balik tumpukan peti kayu tua saat kaca-kaca jendela tinggi di atasnya hancur berkeping-keping. Debu dan serpihan kayu beterbangan. Di depannya, Jonathan Saksena masih berdiri tenang, seolah peluru-peluru yang beterbangan itu hanyalah rintik hujan yang tidak bisa menyentuhnya. "Kau dengar itu, Rafael? Itu suara akhir dari ambisimu," kata Jonathan tanpa berteriak, namun suaranya menembus kebisingan baku tembak. "Kenapa kau tidak lari?" tanya Rafael dari balik persembunyiannya. Tangannya mencengkeram gagang pistol dengan buku ja

