Bab 7. Luka yang Tak Terlihat
“Elara, dia bukan perempuan biasa.”
Luca masih mengirim voice note ke Rafael. Namun atasannya itu masih belum menanggapi pesan yang ia kirim. Hingga malam pun berlalu.
—--
Pagi muncul dengan langit kelabu. Rumah besar Rafael begitu sunyi. Elara duduk di balkon kamarnya, menggenggam cangkir teh yang sudah dingin. Matanya menatap ke halaman di bawah, tempat Rafael sedang berlatih menembak bersama Luca.
Setiap kali peluru meledak, tubuh gadis itu refleks menegang. Ia bukan takut, Senjata juga mainan bayinya. Hanya saja entah kenapa, rasanya tak sanggup melihat sosok itu di dunia penuh kekerasan.
“Non Elara.” Suara lembut dari belakang membuatnya menoleh. Seorang pelayan wanita datang membawa map cokelat.
“Tuan Rafael menitipkan ini. Katanya kamu harus datang ke ruang kerja setelah sarapan.”
Elara menerima map itu dengan jantung berdebar. “Baik. Terima kasih.”
Begitu pelayan pergi, Elara membuka map tersebut. Isinya, lembaran kontrak kerja resmi. Rafael menawarinya posisi tetap sebagai penyanyi di kasino miliknya, dengan gaji besar dan fasilitas lengkap.
“Pintar kamu, Rafael,” gumamnya. “Kamu ingin aku tetap di dekatmu.”
Ia menghela napas panjang. Setiap langkah misi yang dijalani terasa makin berat, terutama setelah malam itu. Tatapan Rafael, kalimatnya yang jujur, bahkan luka di lengannya, semua itu masih melekat di benak Elara.
---
Rafael menunggu di ruang kerja, duduk di belakang meja besar yang terbuat dari kayu jati berwarna gelap. Ketika Elara masuk, pria itu menatap sekilas lalu meletakkan senjatanya di atas meja.
“Kamu baca kontraknya?”
“Sudah.”
“Dan?”
Elara tersenyum kecil. “Kalau aku menolak, apa kamu akan melepaskanku?”
Rafael mendengus. “Aku bisa cari penyanyi lain. Tapi sayangnya, aku udah terbiasa dengar suaramu.”
“Alasan yang manis untuk ukuran bos mafia,” ujar Elara sambil duduk.
Rafael memutar pena di jarinya. “Kamu tahu, aku gak suka disebut begitu.”
“Kalau kamu bukan mafia, lalu siapa?”
Rafael menatap dalam. “Seseorang yang bertahan hidup dengan caranya sendiri.”
Perkataan itu seperti pohon yang ditebas pedang. Elara terdiam, lalu menandatangani kontrak tanpa berkata apa-apa.
Rafael memperhatikan setiap gerakannya, lalu berkata pelan,
“Mulai malam ini, kamu tampil di lantai utama. Aku ingin kamu jadi pusat perhatian.”
“Baik, Bos.”
“Jangan panggil aku itu.”
“Perasaan semua panggilan selalu salah di telingamu.”
Rafael tidak menjawab, ia hanya meminta Elara untuk keluar dari ruangannya dengan isyarat dari jari telunjuknya.
---
Seperti malam-malam biasanya setiap kasino milik Rafael selalu ramai. Meski kasino Sable Noir sudah hancur, pria itu masih memiliki kasino yang bernama La Siren.
Lampu-lampu gemerlap memantul di meja judi dan gelas kristal. Elara berdiri di atas panggung dengan gaun biru tua yang membingkai tubuhnya menjadi anggun. Sorotan lampu jatuh di wajahnya. Begitu musik dimulai, suaranya meluncur lembut, menyihir semua mata di ruangan.
Dari balkon atas, Rafael memperhatikan. Ia tidak memandang panggung seperti penonton biasa, melainkan seperti seseorang yang sedang mencoba membaca isi hati orang yang bernyanyi di sana.
Lagu berakhir dengan tepuk tangan panjang. Elara menunduk sedikit, tersenyum, lalu turun dari panggung. Ia menuju bar, mengambil segelas air putih. Di sebelahnya, Rafael sudah menunggu.
“Kamu bikin semua orang di ruangan ini terhipnotis.”
Elara tersenyum tanpa menoleh.
“Tapi, sepertinya kamu gak kena hipnotisnya?”
“Mana mempan. Aku tuh udah kebal.”
Elara mengangkat gelasnya. “Kebal? Dari apa?”
“Dari keindahan yang bisa menipu.”
Elara menatap pria itu cukup lama, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Kamu kayak orang yang udah sering dikhianati?”
Rafael hanya tersenyum.
Dentingan gelas dan musik dari panggung berpadu menjadi melodi indah, terasa syahdu. Elara menatap wajah Rafael dari jarak dekat, dan untuk sesaat, ia hampir lupa siapa dirinya.
Elara ingin berkata sesuatu, akan tetapi suara keras dari belakang membuat mereka berdua menoleh.
Salah satu penjaga datang terburu-buru. “Tuan, ada masalah di meja utama. Salah satu tamu VIP menolak bayar tagihan.”
Rafael berdiri. “Tangani dengan tenang. Aku gak mau tempat ini berantakan.”
Penjaga itu mengangguk dan pergi.
Elara menatap Rafael, lalu bertanya lirih, “Kamu gak akan turun tangan?”
“Selagi mereka bisa mengatasi, kenapa harus aku? Lagian, Luca juga ada.”
“Jadi masalah seperti apa yang bisa membuatmu turun tangan?”
“Membasmi pengkhianat.” Rafael menatap minuman di gelasnya seraya mengembangkan senyum smirk
Elara tercekat, nyaris kehilangan napas. Pandangan mereka bertemu. Rafael menatapnya sangar dalam. Elara merasa kalau Rafael sedang berbicara tentang dirinya, dan itu membuat dadanya panas dingin.
---
Beberapa hari berlalu. Elara mulai bekerja tetap di kasino. Ia mendapat akses ke beberapa ruangan, termasuk kantor administrasi tempat catatan keuangan disimpan.
Suatu malam, setelah kasino tutup, Elara diam-diam masuk ke ruangan itu. Lampu yang redup, udara yang sedikit lembab. Ia menyalakan perekam kecil dan membuka komputer.
Folder demi folder terbuka, memperlihatkan daftar pengiriman, transaksi gelap, dan nama-nama asing dari luar negeri.
Ia memotret beberapa dokumen, lalu menyalin sebagian data ke drive kecil. Namun sebelum ia keluar, suara langkah berat terdengar dari balik pintu.
“Elara?”
Tubuhnya menegang. Iangsung mematikan komputer, membuat sepatunya, dan bergegas ke toilet di ruangan itu. Gadis itu sembunyi dibalik pintu toilet sambil menahan napas.
Sementara itu Rafael berdiri di ambang pintu dengan wajah serius. Masuk dengan perlahan.
“Hemm dia gak di sini. Lalu ke mana dia?”
Elara berusaha tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Setelah mendengar detak langkah Rafael yang keluar dari ruangan. Perlahan-lahan gadis itu pun keluar dari toilet dan mengendap-endap.
Elara berhasil keluar, ia lalu pura-pura muncul dari belakang punggung Rafael.
“Kamu di sini?”
Rafael memandangnya lama, lalu menghela napas. “Kamu ini selalu membuatku memiliki prasangka aneh. Dari mana?”
“Aku habis ke toilet. Terus aku lihat kamu berjalan ke sini. Ya, aku ikuti.”
Rafael tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. “Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan mudah. Asal kamu tahu, aku juga gak gampang tergoda sama wajah cantik.”
“Elara kembali menahan napas saat pria itu berhenti hanya sejengkal darinya.
Mereka saling menatap lama. Udara di antara mereka terasa berat,
Rafael menyentuh ujung rambut Elara pelan, lalu berkata rendah, “Kamu berbahaya, Elara. Setiap kali aku lihat kamu, rasanya aku lupa apa itu bahaya.”
Elara menelan saliva, suaranya nyaris tak keluar. “Kalau kamu lupa bahaya, kamu bisa terbunuh kapan saja.”
“Tak masalah,” jawab Rafael. “Setidaknya aku mati bisa bertemu orang tuaku.”
Kata-kata itu membuat Elara kehilangan arah sejenak. .
Dalam diam, gadis itu merasakan sesuatu yang menyesakkan.
Bagaimana kalau semua ini berakhir dengan kehilangan?
---
Malam semakin larut. Rafael mengantar Elara sampai depan kamarnya. Ia berhenti di depan pintu, menatap gadis dan berkata.
“Elara.”
“Hm?”
“Kamu percaya karma?”
“Percaya.”
“Aku rasa, sebentar lagi aku aka mendapatkan bagianku.”
Elara mengerutkan kening. “Kenapa?”
Rafael menghela napas panjang. “Karena aku mulai percaya seseorang lagi selain Luca.”
Ucapan itu membuat d**a Elara serasa diremas. Ia ingin menyangkal, ingin memalingkan wajah, tapi Rafael lebih dulu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Begitu pintu kamarnya tertutup, Elara bersandar di dinding, matanya berair tanpa alasan.
“Kenapa harus kamu, Rafael…” bisiknya pelan.
Ia menatap alat komunikasi kecil di meja. Laporan dari markas masih menunggu. Tangannya hampir menyentuh tombol kirim, namun Ia tak sanggup. Setidaknya jangan malam ini.
---
Pagi berikutnya, di ruang kerjan. Rafael menatap jendela dengan pandangan kosong. Luca berdiri di belakangnya, memegang berkas laporan dari keamanan.
“Bos, tentang Elara.”
“Sudah aku baca,” potong Rafael. “Simpan saja dulu.”
“Tapi, kalau benar dia—”
Rafael menatap Luca tajam. “Aku bilang, simpan dulu!”
Luca menunduk. “Baik, bos.”
Di luar jendela. Angin menerpa
Begitu Luca pergi, Rafael menatap tirai, membawa aroma pohon yang sejuk. Ia menatap jauh, bergumam nyaris tanpa suara,
“Aku sadar, kamu memang berbahaya, Elara. Tapi anehnya kenapa aku malah ingin terus berada di dekatmu.”
---
Di kamar Elara, ponselnya bergetar. Pesan dari markas muncul:
“Intel 07, laporan tertunda. Jika gagal kirim dalam 24 jam, misi akan diambil alih.”
Elara menatap layar itu lama, lalu menutup ponsel dengan tangan gemetar.