Bab 6. Apakah Ini Cinta?

1505 Kata
Bab 6. Apakah Ini Cinta? “BOOS! ANDA DI MANA?!” Luca berteriak kencang. Suaranya beradu deras dengan deburan ombak yang menghempas pantai dan bebatuan. Tangan kanan sekaligus teman dekat Rafael itu melihat sekeliling. Ia yakin kalau Rafael berada di tempat itu. Sayup terdengar ada yang memanggil namanya, Rafael berbalik dan melambaikan tangan. Lengannya yang terluka masih basah. Untung saja bukan luka karena peluru. Luca berlari. “Akhirnya. Bos, gak apa-apa?” Tatapan nanar reflek Luca berikan saat melihat lengan Rafael terbalut kain berwarna maroon. “Cuma goresan kecil. Gimana?” “Saat ini beres, Bos. Tapi anggota kita banyak yang tewas.” Rafael hanya tertunduk. Tangannya mengepal kuat. “Bos, merasa gak, sih? Sejak perempuan itu di dekat kita. Semuanya kacau.” “Heem. Tapi kita belum cukup bukti. Sekarang kita pulang dulu. Kamu bahas dengan anak-anak yang lain tentang kekacauan ini. Perketat keamanan. Apa pun yang kalian temukan, segera lapor!” Mereka pun segera kembali ke kediaman Wiratama. —--- Rafael tipe yang jarang bicara saat sarapan. Pria itu duduk di meja panjang, membaca berkas dengan wajah serius dan tegang. Elara menatapnya dari seberang, sesekali pura-pura memainkan ponsel yang diberikan oleh Rafael. Padahal yang ia lakukan adalah menyalakan alat kecil di bawah meja makan. Yup,itu adalah kamera mikro yang terhubung ke pusat. “Kenapa kamu diam saja dari tadi?” Rafael menutup berkasnya. Elara mengangkat bahu. “Di meja ini cuma kita berdua. Kmaubsedang sibuk, aku harus ngobrol sama siapa?” “Tumben. Biasanya nyinyir dan selalu membuat tingkah yang mencurigakan.” “Kalau Tuan muda sekaligus bos besar lagi sibuk dan serius, siapa coba , yang berani nyinyir?” Rafael menatap gadis itu lama. “Kamu mulai berani ya, ngomong seenaknya.” Elara meneguk kopi yang terasa begitu pahit saat menjalar ke kerongkongan. Ia sadar telah salah bicara. “Aku peringatkan agar selalu jaga sikap dan bicaramu. Kita, gak seakrab itu.” “Benarkah? Lalu tadi malam kita hampir saja.” Elara melirik Rafael dan menaikkan alis sebelah kiri. Rafael tidak menjawab. Ia berdiri, menyampirkan jas hitam di bahunya, lalu berkata pelan, “Aku keluar sebentar. Jangan macam-macam!” Begitu Rafael pergi, Elara menghela napas panjang. Ia membuka tutup lipstik yang tersambung dengan alat penyadap mini di ruang kerja Rafael. “Intel 07 melapor. Target menuju kantor pusat. Fase penyadapan internal dimulai,” bisiknya cepat. Suara dari alat di telinganya menjawab, “Teruskan. Prioritas, cari data keuangan dan catatan pertemuan dengan sindikat luar negeri.” “Siap.” Elara menatap pintu yang baru saja tertutup. “Maaf, Rafael.” --- Hari itu Elara nekat menyusuri lorong rumah besar itu. Lantai marmer memantulkan langkah kakinya yang hati-hati. Ia mencoba membuka pintu ruang kerja Rafael. Dewi Fortuna sedang bersama Elara, pintu itu tidak terkunci. Ruangan itu dingin dan luas. Aroma khas parfum maskulin masih terasa. Di meja kerja, ada tumpukan dokumen, laptop, dan satu brankas kecil di pojok. Elara menyalakan alat perekam mikro, lalu memeriksa berkas. Beberapa dokumen mencantumkan nama-nama perusahaan ekspor, tapi sebagian tampak mencurigakan. Ada tanda tangan palsu dan angka yang tidak sinkron. “Pengiriman logam mulia?” gumam gadis itu lirih. “Atau cuma kedok?” Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat. Elara menegakkan tubuh. Dengan cepat ia mematikan alat perekam dan berpura-pura melihat lukisan di dinding. Elara terpaku. Ia merasa tidak asing dengan foto seorang pria paruh baya yang terpajang di sebelah lukisan. Gadis itu mencoba mengingatnya. “Ngapain kamu di sini?” suara Rafael terdengar tajam. Elara menoleh cepat, wajahnya dibuat terkejut. “Kamu bikin aku kaget.” “Jawab!” “Aku awalnya mau ke taman belakang. Ingin bersantai di sana. Tapi, aku melihat ruangan ini terbuka dan, lukisan indah itu seperti menarikku untuk melihatnya. Maaf.” Rafael mendekat perlahan, langkahnya berat. Tatapannya tajam, membuat Elara sulit bernapas. “Lancang!” Rafael berhenti tepat di depan wajahnya. “Kamu sepertinya terlalu ingin tau tentang kehidupanku. Elara menghela napas. “Kalau aku mau nyari masalah, gak mungkin aku pilih ruangan ini. Bisa, gak, Tuan Muda jangan terlalu curiga terus. Oke, aku salah karena sudah masuk ke ruangan itu. Tapi, lukisan itu memang menarik.” Keheningan menyelimuti beberapa detik. Lalu Rafael tersenyum tipis. “Kamu, punya nyali juga.” “Udah aku bilang, aku gak merasa takut, karena curigamu tidak beralasan. Sebaiknya aku pergi saja dari sini.” “Gak semudah itu, Nona. Kamu sudah cukup banyak mengetahui tentang aku.” Elara terperangah. Namun, secepat yang ia bisa, Elara mengatur keadaan. Gadis itu mendekati Rafael. Aroma parfum lembut menguar seketika. “Kalau begitu, apakah Tuan Muda ingin aku selalu di sampingmu?” Telunjuk Elara membelai lembut pipi Rafael. Pria itu sempat terperanjat sebentar. “Baiklah.” Rafael melangkah menjauh. “Malam nanti, ikut aku ke tempat latihan. Ada pertunjukan amal. Aku butuh penyanyi yang bisa menarik perhatian.” Elara hampir tak percaya dia lolos begitu saja. “Baik, Tuan Rafael.” “Panggil aku Rafael!” --- Sore itu, mereka berdua pergi ke gedung pertunjukan milik Rafael. Bangunannya megah, penuh lampu kristal dan gemerlap emas di langit-langit. Di sana, Elara berlatih menyanyi di atas panggung, sedangkan Rafael duduk memperhatikan dari kursi paling depan. “Coba lagu lain! Suaramu bagus, tapi kurang power.” Elara menatapnya kesal. “Rafael, aku lelah. Bisakah istirahat? Aku bukan robot. Aku punya perasaan juga.” “Kalau begitu, nyanyikan perasaanmu.” Rafael tak mempedulikan keluhan gadis itu. Elara menarik napas. Kali ini ia memilih lagu yang bertenaga. Suaranya meluncur pasti dan padat, mengisi ruangan besar itu dengan nada-nada yang menyentuh. Rafael terdiam, matanya mengikuti setiap gerak gadis itu. Begitu lagu selesai, Elara menatap ke arahnya. “Apa sudah memiliki power?” Rafael berdiri, berjalan ke panggung. “Sekarang pas.” Rafael berdiri di depan Elara, jarak mereka hanya sejengkal. Gadis itu menunduk, jantungnya berdetak kencang. Rafael memegang tangan Elara sebentar, lalu melepaskannya cepat. “Latihan cukup. Aku antar kamu pulang.” Namun saat mereka hendak keluar, dua pria berpakaian rapi menghampiri. Rafael langsung berubah dingin. “Bos, bisa bicara sebentar.” Rafael mengangguk singkat, lalu menoleh ke Elara. “Tunggu di mobil.” Elara berjalan keluar dengan langkah perlahan, dan hati yang berdebar. Ia sempat menoleh ke arah dalam ruangan dan melihat Rafael berbicara dengan dua pria itu. Salah satu dari mereka membawa map tebal berlogo perusahaan ekspor, sama dengan yang ia temukan di ruang kerja tadi. Ia menyalakan alat perekam di tas kecilnya, mendekat sedikit tanpa menimbulkan suara. “Pengiriman malam ini diubah ke pelabuhan selatan. Barangnya harus lolos tanpa pemeriksaan,” kata salah satu pria. Rafael menjawab dingin, “Pastikan tidak ada polisi di area itu. Kalau ada, bersihkan semuanya.” Darah Elara berdesir. Kalimat itu menegaskan sesuatu yang selama ini ia duga, Rafael benar-benar terlibat dalam jaringan ilegal besar. Namun anehnya, kenapa hatinya justru terasa sakit saat mendengar semua itu? --- Malamnya, di balkon kamar, Elara berdiri sendirian menatap langit kota. Angin berhembus lembut, membawa aroma laut dan debu. Ia menyalakan alat komunikasi di telinganya. “Intel 07 melapor. Target terlibat langsung dalam operasi pengiriman ilegal. Aku punya rekaman pembicaraan.” “Data diterima. Lanjutkan pengawasan jarak dekat. Jangan terlibat emosional.” Elara menutup alat itu pelan. Ucapan terakhir dari markas terdengar seperti tamparan. “Jangan terlibat emosional.” Terlambat. Gadis itu sudah terlibat. Suara langkah membuatnya menoleh. Rafael muncul di balkon, mengenakan kemeja santai, rambutnya sedikit berantakan. “Kamu belum tidur?” “Sulit tidur di rumah orang misterius.” “Kalau kamu takut, aku bisa meminta Luca untuk menyuruh anggotanya berjaga-jaga di depan kamarmu.” “Justru itu yang makin bikin aku gak tenang.” Rafael tertawa kecil. “Kamu aneh.” “Wah, Bos. Ternyata kamu bisa tertawa juga.” Rafael terdiam dan berdiri di samping Elara, keduanya sama-sama menatap langit. Beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya kepekatan malam yang bertabur bintang menemani mereka. “Rafael,” panggil Elara lembut. “Hm?” “Kenapa kamu selalu jaga jarak dengan orang lain?” “Karena semua orang yang aku percayai, akhirnya berkhianat.” Elara terdiam. Ia menatap wajah Rafael di bawah cahaya lampu temaram. Ada kesepian di sana. “Kalau suatu saat aku juga berkhianat, apa kamu akan bunuh aku?” Rafael menoleh cepat, tatapannya tajam. “Mungkin. Tapi,kenapa kamu ngomong begitu?” “Hanya ingin tahu.” “Kalau aku sampai melakukan itu, berarti kamu memang pantas mati.” Elara tersenyum getir. “Jawaban kamu selalu dingin.” Debaran hati makin terasa. Namun Elara berusaha menepis rasa. “Karena dunia yang aku jalani sekarang gak ada kehangatan.” Ponsel Rafael berdering memotong pembicaraan. Pria itu melihat layar sebentar, lalu pergi ke dalam tanpa sepatah kata pun. Begitu pintu tertutup, Elara menatap laut di kejauhan. Angin malam menampar wajahnya, akan tetapi ia hanya bergeming. Di dalam dadanya, debaran dan rasa sesak itu semakin parah. “Kenapa rasanya sakit kayak gini, padahal jelas-jelas aku tahu siapa dia,” bisiknya lirih. Sementara itu di bawah balkon, terlihat bayangan bergerak cepat. Luca berdiri di taman, memandang ke arah balkon tempat Elara berdiri. Ia menekan ponselnya dan berbicara pelan, “Bos, sepertinya kamu benar. Dia bukan sekadar penyanyi. Kita harus bicara tentang Elara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN