Bab 42. Rumit “Cukup, Bos! Kendalikan emosinya!” Udara hutan terasa semakin dingin menyusup hingga ke tulang. Teriakan kemarahan dan keputusasaan Rafael akhirnya mereda menjadi desahan napas berat yang patah-patah. Pria itu bersandar pada pohon yang baru saja ditinjunya, tangan berdarah tergantung lemas di sisinya. Luca masih memegangi bahunya, berbicara dengan suara rendah yang mencoba menenangkan. Elara berdiri beberapa langkah jauhnya, tubuhnya menggigil bukan karena udara malam. Nama “Jonatan Saksena” masih bergema di kepalanya, tajam dan mematikan. Setiap denyut nadi di pelipisnya berteriak kebohongan yang ia peluk erat. “Kita tidak bisa tinggal di sini,” akhirnya Luca berkata, suaranya lebih keras, memecah kesunyian. Matanya, yang biasanya patuh dan datar, kini tajam menyapu sek

