Bab 22. Pengakuan di Bawah Kabut “Ini adalah jebakan. Ini hanya sandiwara.” Elara mengulang mantra itu di benaknya, memaksa dirinya tetap diam. Rafael merebahkan diri dan memeluk Elara dari belakang. Sentuhan tak terduga itu terasa seperti sengatan listrik dingin yang menjalar dari punggungnya, langsung ke jantung Elara. Tubuhnya menegang sesaat, bukan karena takut, melainkan karena gejolak emosi yang tak terhindarkan. Namun, pelukan itu terlalu tulus, terlalu hangat untuk sekadar jebakan. Lengan kekar Rafael melingkari perutnya, menariknya erat hingga punggungnya menempel sempurna pada d**a bidang pria itu. Elara bisa mendengar detak jantung Rafael yang kuat dan teratur, kontras dengan gemuruh cemas di dadanya sendiri. “Kamu gak tidur,” bisik Rafael, suaranya dalam dan serak, tepat di

