Bab 46. Penipu Cinta Mobil berhenti sejenak di depan gerbang besi tinggi yang tertutup rapat. Villa di baliknya tampak megah namun sunyi, seperti sebuah kuburan mewah yang tersembunyi di balik bukit. Tak ada penjaga yang terlihat, tak ada kamera pengawas yang jelas. Kesunyiannya justru membuat kulit bergetar. “Ini tempatnya?” Elara bertanya, suaranya lebih kecil dari yang ia rencanakan. “Menurut sumber, iya,” jawab Rafael tanpa menoleh. Matanya menyisir setiap jendela, setiap balkon, mencari tanda bahaya atau kehidupan. Tangannya masih mencengkeram setir. Luca membuka pintu dan melangkah keluar. Udara pegunungan yang dingin menyergap masuk ke dalam kabin. “Aku akan memeriksa sekeliling. Tunggu di sini.” Sebelum Rafael menyahut, Luca sudah menghilang di balik pagar tanaman tinggi yang

