Bab 45. Di Persimpangan Hati Mobil melaju lebih kencang, membawa mereka meninggalkan jalan utama dan menyusuri jalur berliku yang membelah perbukitan. Pepohonan semakin rapat, menyaring cahaya matahari pagi menjadi garis-garis remang yang menari di kaca depan. Keheningan di dalam mobil terasa lebih berat daripada sebelumnya. Rafael mencengkeram setir hingga buku-buku tangannya yang terluka memutih. Ia tidak lagi melihat ke kaca spion, melainkan fokus pada jalan di depan, seolah-olah garis aspal itu adalah satu-satunya hal yang menahannya dari ledakan. Elara duduk di sampingnya, setiap otot tubuhnya menegang. Ia menatap lurus ke depan, berusaha mengatur napas agar tetap teratur. Namun, dari sudut matanya, ia melihat cara Rafael menekan rahangnya, ritme napasnya yang pendek dan terpotong.

