Bab 44. Luca Menemukan Ponsel Burner Elara. “Ayaaah! Ibuu! Air tolong ambilkan air. Mereka terbakar, toloongg!” Terikan Rafael memecah kesunyian fajar, kasar dan penuh siksaan, seperti hewan yang tertusuk. Elara terkejut dan bangun, jantungnya berdebar kencang. Napasnya tersangkut di kerongkongan. Di seberang ruangan, Luca sudah berdiri, tangannya refleks meraih pistol yang terselip di pinggang. Suara itu mereda menjadi gumaman tak jelas, lalu senyap kembali. Luca menatap ke arah kamar Rafael, kemudian pandangannya beralih ke Elara. Dalam cahaya remang-remang yang masuk dari jendela tinggi, matanya tampak seperti batu kali. Tanpa sepatah kata, ia berjalan menghampiri pintu kamar Rafael, mengetuk pelan. “Bos? Kau baik-baik saja?” Terdengar suara gerakan kasar, lalu pintu terbuka. Raf

