Citra menangis sendiri di kamarnya dengan pilu. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia seorang istri, tempatnya adalah di sisi suaminya. Tapi bagaimana jika ada perempuan lain di sisi suaminya? Ia mengambil ponselnya untuk menelpon kakaknya. Kakaknya pasti sedang persiapan praktek di poli rumah sakit. “Assalamualaikum. Ya, Cit,” sahut Reksa . “Waalaikumussalam. Kakak,” suara Citra terdengar parau menahan tangis. “Sayang, kenapa?” “Kakak, tolong jemput Citra,” ucapnya pilu. “Jemput?” Reksa berusaha mencerna baik-baik. Sejak menikah, tak pernah sekalipun adiknya itu meminta dijemput. “Kakak, please. Citra gak mungkin minta Papa.” “Kamu di rumah?” “Iya.” “Kakak ke sana sekarang. Tunggu Kakak.” Masih setengah jam sebelum poli buka. Reksa memerintahkan suster yang berjaga untuk

