Bab 2. Syarat dari Bianca

759 Kata
Dewa masih ingat saat pertama kali ibunya memperkenalkan Bianca dan keluarganya. Bianca cantik, tentu saja. Bianca adalah salah satu putri keluarga kaya raya yang sudah sejak lama mengenal baik keluarganya. Hubungan dua keluarga yang cukup baik, namun Dewa tidak menyangka bahwa hubungan baik itu justru dipererat dengan perjodohan. Kecantikan Bianca tidak lantas membuat Dewa jatuh cinta, sebab ia sudah memiliki kekasih bernama Sarah. “Keluarga kamu sudah menunggumu,” suara Bianca memecah keheningan, membuat Dewa yang tengah fokus mengemudi langsung menoleh ke arahnya. Wanita itu masih menunjukkan ekspresi datar, bahkan tidak terlihat tanda-tanda menangis di kedua matanya. Apakah kejadian tadi tidak pantas membuat Bianca sakit hati? Pernikahan yang terlalu cepat hanya selang beberapa bulan saja setelah keduanya dikenalkan secara resmi. Saat itu Dewa masih berstatus kekasih Sarah, seorang Influencer ternama, juga seorang janda dengan anak satu. Perjodohan itu terjadi, dimana Dewa tidak bisa menolak, tidak juga diberikan pilihan oleh keluarganya. Juga karena Sarah memang tidak pernah diterima di keluarga Dewa karena status juga perbedaan usia antara mereka yang kian mencolok. Dewa tahu persis rumah tangga yang akan dijalani bersama Bianca jauh dari kata bahagia. Proses perkenalan yang kelewat cepat, bahkan saat itu Dewa masih sangat mencintai Sarah, masih mengusahakan Sarah diterima di keluarganya. Dewa merasa terlalu terburu-buru dari mulai pernikahan sampai menikah, rentang waktu yang sangat singkat dan cepat, hingga ia tidak tahu pasti hubungan seperti apa yang akan dijalankan setelah resmi menyandang status sebagai suami Bianca. “Apa kamu akan memberitahu ibu tentang kejadian tadi?” Dewa penasaran. “Tidak, jika kamu melarang atau tergantung situasi.” Kening Dewa mengerut, menatap tidak mengerti ke arah Bianca yang tetap dengan ekspresi datarnya. “Apakah ini ancaman?” tanyanya lagi. “Aku tidak pernah mengancam, kecuali dalam situasi tertentu.” “Ayolah Bi, kamu tahu betul alasan kita menikah. Karena kedua orang tua kita yang menginginkannya, bukan karena kita saling mencintai seperti pasangan pada umumnya. Seharusnya kita tidak perlu membesarkan masalah ini, aku masih mencitai Sarah dan kamu tahu itu.” Bianca terlihat tenang, padahal kata-kata yang terlontar dari bibir Dewa jelas menyakiti dan menggores harga dirinya. “Aku tahu itu, kamu tidak perlu mengulang kalimat yang sama karena aku sudah tahu sejak awal. Kamu boleh kembali padanya, tapi tentu saja setelah urusan denganku selesai.” balas Bianca tenang. “Urusan apa? Cerai maksudnya? Kita baru menikah kemarin, nggak mungkin langsung cerai begitu saja. Ada keluarga yang harus aku jaga perasaannya.” “Itu kami tahu, artinya kita memang nggak bisa berpisah, setidaknya lima bulan atau paling lama satu tahun.” “Satu tahun? Terlalu lama, aku ingin menikah dengan Sarah. Setelah aku jadi duda, status kami sama dan keluargaku tidak akan lagi mempermasalahkan status Sarah.” Salah satu alasan dewa mau menikah, yakni karena ia ingin mendapatkan gelar Duda yang akan menyamakan status Sarah nantinya sebagai janda. Dewa tidak segan mengutarakan keinginannya, tidak peduli apakah Bianca sakit hati atau tidak. “Tentu, kamu boleh kembali padanya. Seperti yang aku bilang tadi, kalian bisa kembali bersama tapi selesaikan dulu urusanmu denganku.” “Aku ingin hamil.” ucap Bianca tanpa ragu. “Apa? Yang benar saja!” Nadanya mengejek, lengkap dengan seringai kecil di sudut bibit Dewa. “Benar. Aku ingin hamil. Karena perjodohan ini kita sama-sama punya misi. Kamu ingin menjadi dudu agar bisa setara dengan Sarah dan aku ingin hamil karena aku punya penyakit. Kita impas, kan?” Bianca menoleh, “Kita akan bercerai setelah satu tahun, atau setelah aku hamil.” Dewa hendak membuka mulutnya untuk menyela, protes. Namun Bianca sudah terlebih dulu mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan untuk tidak bicara sebelum ia menuntaskan ucapannya. “Hanya itu syaratnya. Syarat agar kamu bisa kembali pada Sarah.” “Apa?! Kamu menjebakku?” selidik Dewa. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Dewa terkekeh. “Setelah ada anak, kemungkinan untuk berpisah justru akan semakin sulit.” “Siapa bilang? Kita ada perjanjian dan tentu saja kita harus sepakat untuk itu. Aku tidak akan menuntut apapun darimu setelah hamil nanti.” Bianca menatap serius. “Kamu tidak percaya?” “Tentu saja!” Jawab Dewa jujur. “Siapa yang bisa dipercaya atas rencana yang kamu sembunyikan?” “Kita sama-sama licik, Wa. Artinya kita nggak punya kesempatan untuk saling mengkhianati, kan?” Dewa menghela lemah, tidak menjawab namun masih mempertimbangkan. Ia begitu ingin kembali pada Sarah, wanita yang dicintainya, tapi Dewa pun ragu dengan syarat yang diajukan Bianca. Baginya itu terlalu beresiko. “Syarat untuk berpisah hanya itu, Wa. Pikirkan baik-baik. Karena aku ingin hamil, ingin sembuh dari penyakit, kamu pun ingin kembali pada Sarah.” Bianca berusaha meyakinkannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN