Bab 1. menjemput Dewa
Bianca terduduk lemas di tepi ranjang kamar pengantin, gaun putih yang masih melekat di tubuhnya kini terasa begitu berat. Beberapa jam lalu, ia masih tersenyum bahagia, mengucap janji suci di hadapan banyak saksi. Namun sekarang, kamar itu sunyi, dingin, dan terasa asing.
Ponsel di tangannya kembali bergetar—panggilan yang kesekian kalinya ia lakukan pada Dewa. Tetap tak ada jawaban. Hanya nada sambung panjang yang berakhir dengan keheningan.
“Ke mana kamu??” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia bangkit, menyusuri setiap sudut kamar, membuka pintu kamar mandi, balkon, bahkan mengintip lorong hotel. Kosong. Tak ada jejak. Jas hitam Dewa pun sudah raib dari gantungan, pertanda lelaki itu pergi bukan sekadar sebentar.
Rasa cemas perlahan berubah menjadi takut. Pikiran-pikiran buruk menyerbu tanpa ampun. Apakah Dewa menyesal? Atau… apakah sejak awal pernikahan ini hanyalah kesalahan?
Bianca menggigit bibir, menahan isak yang kian mendesak. Baru beberapa jam menyandang status istri, namun ia sudah ditinggalkan tanpa sepatah kata. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang masih dihiasi riasan pengantin.
Di balik sunyi malam, Bianca tak tahu bahwa kepergian Dewa bukan sekadar menghilang. Ada rahasia besar yang sedang menyeret lelaki itu, dan perlahan akan menyeret hidup Bianca ke dalam pusaran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bianca menghubungi seseorang yang dipercaya,untuk mencari dimana Dewa saat ini dan dari informasi yang didapat, lelaki itu tengah berada di kediaman seseorang, lebih tepatnya mantan kekasihnya Sarah.
Bianca tak membuang waktu. Setelah mendapatkan alamat lengkap apartemen di kawasan Kemang itu, ia langsung bertolak ke sana.
Tangannya gemetar sepanjang perjalanan, sementara dadanya terasa sesak oleh berbagai kemungkinan yang terus berputar di kepalanya.
Namun Bianca sudah menduga bahwa hari ini pasti akan terjadi. Cepat atau lambat.
Mobil berhenti di depan gedung apartemen mewah. Bianca turun dengan langkah tergesa, bahkan hampir tersandung karena terlalu terburu-buru. Ia menahan napas saat memasuki lobi, menatap resepsionis dengan wajah tegang.
“Maaf, saya mencari penghuni atas nama Sarah Wijayani. Di unit berapa dia tinggal?” tanyanya, berusaha terdengar tenang meski suaranya bergetar.
Resepsionis itu tampak ragu, namun setelah Bianca meyakinkan, petugas itu akhirnya memberi tahu nomor unit yang dimaksud dan petugas bersedia mengantar.
Lift terasa bergerak terlalu lambat. Jantung Bianca berdegup kencang setiap lantai yang terlewati. Hingga akhirnya, pintu lift terbuka di lantai tujuan.
Lorong apartemen tampak sepi dan sunyi. Langkah Bianca menggema pelan saat ia berjalan menuju unit yang disebutkan. Di depan pintu, ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental.
Tangannya terangkat, mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
Tak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Dewa… aku Bianca.”
Bianca mengetuk pintu dengan ragu, berulang kali meyakinkan diri sebelum mengetuk dan memanggil nama suaminya.
Ketukan pertama tidak ada respon, sampai ketukan kesekian akhirnya ia mendengar suara pintu terbuka.
Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya terdengar suara langkah dari dalam. Pintu terbuka perlahan.
Dan detik itu juga, Bianca melihat Dewa berdiri di hadapannya dengan kaus sederhana dan rambut sedikit berantakan. Di belakangnya, tampak sepasang sepatu wanita yang jelas bukan milik Bianca.
Tatapan mereka bertemu. Dewa membeku. Sementara Bianca menatapnya dengan sorot tenang.
“Ayo, kita pulang.” ajak Bianca.
“Pestanya sudah selesai, kan?”
“Wa,,. Siapa?” terdengar suara Sarah dari dalam sana, dan tidak berselang lama wanita itu pun muncul dengan hanya mengenakan pakaian supermarket pendek.
“Bianca…” ekspresi terkejut itu hanya sesaat, sebelum Sarah tersenyum ramah.
“Aku mau jemput Mas Dewa pulang,” ucap Bianca tenang.
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Tapi justru itu yang membuat suasana semakin mencekam.
Sarah di belakang Dewa—mantan kekasihnya—terdiam kaku. Wajahnya pucat, jelas tak menyangka akan bertemu Bianca secepat ini, apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Rambutnya masih sedikit basah, mengenakan piyama tipis, seolah mengkonfirmasi apa yang sejak tadi ditekan Bianca dalam pikirannya.
“Wa, ayo pulang.” Tatapannya tetap lurus, tak bergetar, meski hatinya hancur berkeping-keping.
“Aku cuma datang buat jemput suamiku. Itu aja.”
Kata suamiku diucapkannya dengan penekanan yang jelas. Sebuah penegasan. Sebuah tamparan halus.
Dewa terdiam ia melirik sekilas ke arah perempuan di belakangnya, lalu kembali menatap Bianca. “Aku masih ingat disini, menemani Sarah.”
Bianca tersenyum tipis, pahit. “Kamu sudah ambil waktuku. Dari awal kita kenal, sampai hari ini. Bahkan di hari pernikahan kita.”
Sunyi menyergap lorong apartemen itu. Tak ada suara selain dengusan nafas mereka bertiga.
“Aku tunggu di mobil,” lanjut Bianca akhirnya.
Dewa menggeleng pelan. Tatapannya tak lagi setenang sebelumnya. “Aku nggak bisa pulang, Bianca. Aku mau tetap di sini… sama Sarah.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, menusuk tanpa ampun.
“Pernikahan kita cuma perjodohan. Kamu tahu itu,” lanjut Dewa, suaranya tegas, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Aku nggak pernah mencintaimu.”
Bianca terdiam sejenak. Dadanya sesak, tapi anehnya ia tak marah. Tak ada teriakan, tak ada makian. Hanya senyum tipis yang terukir di bibirnya—senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis.
“Oh… begitu.” Ia mengangguk pelan. “Kalau itu pilihan kamu, aku hormati.”
Dewa sedikit terkejut melihat ketenangannya.
“Tapi pulang dulu ya,” ucap Bianca lembut. “Keluarga kita pasti kesal kalau tahu anaknya ada di sini, di hari pertama pernikahan. Setidaknya pulang sebentar, tunjukkan kalau Mas masih menghargai mereka.”
Sarah di belakang Dewa menunduk, merasa tak enak. Namun Dewa justru menghela nafas kasar. “Aku nggak mau pura-pura.”
Bianca kembali tersenyum, kali ini lebih pahit. “Bukan buat aku. Buat orang tua kamu. Buat orang tuaku. Kita ini bukan cuma berdua.”
Sunyi kembali merambat di lorong itu.
“Kalau kamu tetap nggak mau pulang,” lanjut Bianca lirih, “Setidaknya bantu aku menjaga nama baikmu. Kita pulang, dan aku menjelaskan semuanya. Biar aku saja yang jadi pihak salah. Biar nama kamu tetap baik.”
Dewa tertegun. “Bianca,,”
.
“Ayo, kita pulang. Oma dan Ibu menunggu kita di rumah, semua orang menunggu kita pulang. Jangan sampai mereka tahu kami disini menghabiskan malam Pertama kita bersama wanita lain.”
Sejujurnya Dewa sudah tahu akan kedatangan Bianca, beberapa waktu lalu istrinya itu mengirim pesan dan menanyakan keberadaannya. Dewa tidak membalas, namun tahu Bianca akan meminta para ajudan atau orang kepercayaannya mencari.
Dewa tidak menyangka Bianca akan benar-benar datang menemuinya. Dewa Ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Bianca, juga melihat reaksinya saat tabu ia tengah menghabiskan malam bersama mantan kekasihnya, Sarah. Tapi seperti yang sudah Dewa prediksi, Bianca tetap bersikap tenang saat menemuinya.
“kita harus pulang sekarang.” Bianca mengulang lagi.
Dewa Menatap ke arah Bianca yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
“Ayo kita pulang sekarang. Aku tunggu di bawah.” ucapnya penuh penegasan.
“Aku tidak mau pulang, kamu pulang saja sendiri.” balas Dewa dengan santai.
“Kita harus pulang bersama.” Bianca tetap tenang dengan penolakan sang suami. “Dan aku akan menunggu kamu di bawah atau ajudan kita akan memberitahu ayahmu, dimana dan sedang apa kamu saat ini.” Bianca menatap datar, namun tetap menusuk.
“Gimana?” satu alisnya Bianca terangkat, seulas senyum terlihat samar di bibirnya melihat reaksi Dewa yang memang tidak akan bisa menolak jika sudah menyangkut keluarganya.