Bab 3. kesehatan Bianca

1042 Kata
Dewa terdiam. Kertas hasil tes itu masih berada di tangannya. Tatapannya terpaku pada deretan kalimat medis yang barusan saja ia baca. Awalnya ia mengira semua ini hanya alasan, drama lain dari Bianca untuk menekannya. Tapi stempel rumah sakit, tanda tangan dokter, dan penjelasan tertulis di sana terlalu jelas untuk dibantah. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya. “Aku ingin hamil, itu syarat kita bercerai.” Suara Bianca tegas. Tidak bergetar. Tidak memohon. Justru terdengar seperti keputusan yang sudah ia pikirkan berulang-ulang. Dewa mengangkat wajahnya. “Kamu serius?” Bianca tersenyum tipis. “Dari awal aku selalu serius.” Ia melangkah mendekat, mengambil kembali hasil tes itu dan meletakkannya di atas meja. Tangannya tidak gemetar, tapi sorot matanya menyimpan lelah yang selama ini tak pernah Dewa sadari. “Dokter bilang kondisi hormon dan penyakitku akan membaik kalau aku hamil. Ini terapi alami yang paling aman untukku. Kalau tidak… kemungkinan aku harus menjalani pengobatan jangka panjang dengan risiko yang lebih besar.” Ia berhenti sebentar. “Aku tidak mau tubuhku rusak.” Dewa mengepalkan rahangnya. “Dan kamu menjadikan itu syarat perceraian?” “Ya.” Bianca menatap lurus ke arahnya. “Aku tidak akan meminta apa pun darimu setelah itu. Tidak harta. Tidak nama. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin satu anak. Setelah itu, kita selesai.” Dewa tertawa pendek, tapi tak ada rasa geli di sana. “Kamu pikir ini sesederhana itu? Hamil, lalu kita berpisah begitu saja?” Bianca mengangguk pelan. “Bukankah dari awal pernikahan ini juga tidak pernah tentang cinta?” Kalimat itu menusuk. Dewa tahu, sejak awal pernikahan mereka penuh kesepakatan dingin. Tanpa perasaan. Tanpa janji manis. Ia bahkan pernah dengan gamblang mengatakan tidak akan pernah mencintai Bianca. “Kalau kamu hamil,” suara Dewa berubah lebih rendah, “kamu pikir aku bisa begitu saja membiarkanmu pergi membawa anakku?” Bianca terdiam sejenak. Ada kilat ragu di matanya, tapi cepat ia sembunyikan. “Itu konsekuensi yang harus kamu terima kalau menyetujui syaratku.” “Dan kalau aku tidak setuju?” Bianca menarik napas panjang. “Maka aku akan tetap berusaha sembuh dengan caraku sendiri. Tapi perceraian tetap akan terjadi.” Dewa berjalan mendekat hingga jarak mereka nyaris tak ada. Tangannya terangkat, seolah ingin menahan bahu Bianca, tapi ia urungkan. “Kamu benar-benar siap jadi ibu… hanya demi bisa bebas dariku?” Bianca tersenyum pahit. “Aku tidak pernah melihat menjadi ibu sebagai beban, Dewa. Justru itu satu-satunya hal yang benar-benar kuinginkan.” Hening kembali menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya, Dewa merasa tidak sedang bernegosiasi dengan istrinya—melainkan dengan takdir. Dan untuk pertama kalinya juga, ia takut kehilangan perempuan yang selama ini ia anggap hanya bagian dari kesepakatan. “Aku akan pikirkan,” ucapnya akhirnya, suaranya jauh lebih pelan. Bianca mengangguk. “Jangan terlalu lama. Waktu tidak selalu berpihak padaku.” Ia berbalik meninggalkan ruangan itu. Sementara Dewa tetap berdiri di sana, memandang pintu yang tertutup, menyadari satu hal yang baru saja menghantamnya— Jika ia menyetujui permintaan itu, ia mungkin kehilangan Bianca selamanya. Dan entah kenapa… itu terasa lebih menakutkan daripada perceraian itu sendiri. “Kamu ingin kembali pada Sarah, kan?” lanjut Bianca, suaranya tetap tenang meski jari-jarinya saling menggenggam untuk menahan getar. “Lagipula Sarah janda anak satu. Kalau kamu menikahinya, kamu harus mencintai dia… juga anaknya. Itu tanggung jawab penuh.” Dewa menatap Bianca tajam. “Kamu mengira semuanya sesederhana itu?” Bianca tersenyum tipis. “Bukankah memang begitu? Kamu mencintainya. Dari dulu. Bahkan sebelum kita menikah.” Kalimat itu seperti membuka luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. “Dan kamu tidak perlu memikirkan bagaimana kelanjutan hidupku dan anakku nanti,” lanjut Bianca. “Aku tidak akan mengganggumu. Tidak akan menuntut apa pun. Cukup buat aku hamil saja… dan semua proses perceraian kita akan lebih mudah.” Sunyi. Dewa berjalan mendekat perlahan, “Kamu pikir aku pria macam apa, Bianca?” “Kamu pria yang tidak pernah mencintaiku,” jawab Bianca tanpa ragu. “Dan aku perempuan yang lelah berharap.” Tatapan mereka bertaut. Tidak ada amarah. Hanya kejujuran yang terlalu telanjang. . “Kamu bilang aku harus mencintai Sarah dan anaknya kalau menikahinya?” suara Dewa menurun, lebih dalam. “Lalu kamu? Kamu tidak takut anakmu tumbuh tanpa ayah?” Bianca terdiam sesaat. “Aku tidak akan pernah melarangmu menjadi ayahnya,” ucapnya pelan. “Tapi aku tidak akan memaksamu bertahan dalam pernikahan tanpa cinta.” Dewa menatap wajah Bianca lebih lama dari biasanya. Ia melihat sesuatu yang jarang diperhatikan, keberanian yang lahir dari keputusasaan. “Kamu benar-benar siap membesarkan anak itu sendiri?” “Aku siap melakukan apa pun untuk anakku.” Anakku, bukan anak kita. Itu yang membuat d**a Dewa terasa aneh. Ia mengangkat tangan, kali ini benar-benar menahan lengan Bianca agar tidak menjauh. Sentuhan itu tidak kasar, tapi cukup kuat untuk menghentikannya. “Kalau aku setuju,” ucap Dewa pelan, “kamu akan pergi setelah hamil?” “Ya.” “Tanpa menoleh lagi?” Bianca mengangguk. Beberapa detik mereka saling diam. Jarak di antara mereka semakin sempit, namun terasa seperti jurang. “Aku tidak butuh belas kasihanmu,” lanjut Bianca. “Aku hanya butuh keputusanmu.” Dewa menatapnya dalam-dalam, seolah mencari sesuatu yang mungkin sudah ia miliki tapi belum pernah ia sadari. “Kamu salah satu hal, Bianca,” ucapnya akhirnya. “Apa?” “Dan kalau pun aku menikahinya suatu hari nanti, itu bukan karena aku melarikan diri darimu.” dewa menatap datar. “Artinya… kita harus tidur bersama?” Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Dewa terlihat benar-benar canggung. Tatapannya tidak lagi setegas tadi. Ia bahkan mengusap tengkuknya sendiri, sesuatu yang jarang ia lakukan saat gugup. Bianca menatapnya tenang. “Tentu,” jawabnya tanpa ragu. “Kamu suamiku. Kita belum bercerai. Itu memang bagian dari tanggung jawabmu.” Kalimat itu terdengar formal. Dingin. Seolah mereka sedang membahas kontrak kerja, bukan pernikahan. Dewa menelan ludah. “Kamu membicarakannya seperti ini cuma… transaksi.” “Bukankah sejak awal memang seperti itu?” Bianca mengangkat bahu tipis. “Kita menikah bukan karena cinta.” Hening kembali menggantung. Dewa menatap wajah Bianca, mencari tanda keraguan. Tapi perempuan itu justru terlihat paling yakin dibandingkan hari-hari sebelumnya. “Kamu yakin bisa melakukannya tanpa perasaan?” tanya Dewa lebih pelan. Bianca tersenyum samar. “Aku sudah belajar mematikan perasaanku sejak lama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN