Tangis Vivian pecah, lebih dalam dari sebelumnya. Tubuhnya terguncang di tepi ranjang, tangan masih mencengkeram jurnal dan surat dari Leonard. Air matanya membasahi pipi tanpa henti, dan kali ini bukan hanya karena luka yang mengoyak tubuh dan hatinya…tapi juga karena kenyataan pahit bahwa Leonard—pria yang merenggut kehormatannya—juga merasakan kesedihan yang sama menusuk. “Kenapa harus aku…” lirihnya, nyaris tak terdengar. Dia memeluk jurnal itu seperti memeluk sisa-sisa harga diri yang tersisa. Vivian merasa dipaksa masuk ke dalam pusaran perasaan yang rumit, marah, terluka, bingung, dan…iba. Karena bagaimana pun, dia melihat sorot mata Leonard—saat pria itu bicara dengan suara bergetar, dengan langkah yang berat seperti sedang menyeret beban besar. Leonard merasakan sesal. Tapi apa

