Vivian memutuskan pandangan mereka. Jantungnya berdebar hebat, hatinya bergetar dalam kabut yang tak bisa dia uraikan satu per satu—sedih, gundah, bingung, terluka, marah, namun juga ragu. Semua menyatu, membentuk pusaran tak berujung di dadanya. Dia tak kuasa menatap Leonard. Tak sanggup. Pandangan pria itu seolah hendak menelanjanginya, membaca luka yang masih merah di dalam. Vivian pun menunduk, pura-pura memperbaiki letak gelas di hadapannya padahal sebenarnya dia sedang menyembunyikan air matanya yang mulai membayang. Ia ingin bicara, namun tak tahu harus berkata apa. Ingin marah, tapi mulutnya kelu. Ingin lari, tapi tak mungkin meninggalkan anak-anak. Dan yang paling menyakitkan, di saat hatinya ingin sekali menghindari Leonard…takdir justru kembali mempertemukan mereka di meja ini

