Langkah Leonard terasa berat saat melewati koridor kantor yang biasanya dia lalui dengan tegap. Kali ini tubuhnya sedikit membungkuk, matanya sembab, dan wajahnya pucat tanpa ekspresi. Beberapa staf yang mengenalnya dengan baik menyapa dengan ramah, “Pagi, Pak Leonard.” Namun, pria itu hanya membalas dengan anggukan kecil atau gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Tak ada senyum di wajahnya seperti biasa, tak ada sorot tegas dan penuh kendali dalam tatapannya. Aura muram menyelimutinya, membuat orang-orang hanya bisa saling pandang dengan bingung, bertanya-tanya dalam diam, apa yang terjadi pada atasan mereka hari ini? Begitu Leonard tiba di ruangannya, pintu langsung dia tutup rapat tanpa berkata apa pun. Tubuhnya jatuh duduk ke kursi kerja, bukan dengan sikap tegap seperti bias

