Vivian menggenggam liontin itu sambil menatapnya kosong. Sungguh, dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Hatinya tercekat, dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ada luka yang masih basah, belum sempat kering sejak malam itu. Namun di sisi lain, perhatian Leonard lewat liontin kecil ini perlahan membuyarkan tembok yang coba ia bangun. Vivian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Tapi perasaan itu terlalu rumit untuk diredam hanya dengan logika—antara ingin membenci, dan tidak sanggup benar-benar membenci. Ia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air matanya menetes pelan, jatuh di atas liontin yang masih hangat di dadanya. Di dalam kamar, Leonard bersandar pada daun pintu yang sudah tertutup rapat. Kepalanya tertunduk dalam, bahunya berguncang pelan,

