Kamar mandi terlihat berantakan. Lantai licin karena sisa air sabun yang belum sempat dikeringkan, handuk anak-anak bergelantungan sembarangan di gantungan, dan pasta gigi tumpah di wastafel. Vivian menghela napas panjang sambil memeras kain pel yang digunakan untuk mengepel lantai. Tangannya bekerja tanpa henti, meski tubuhnya terasa lunglai. Setelah menyelesaikan pembersihan, Vivian berdiri di depan cermin besar yang sudah mulai berembun. Dia membuka pakaian kerjanya yang lembap karena peluh, lalu perlahan membasuh wajah dan tubuhnya dengan air hangat. Saat mengganti pakaian, matanya tertumbuk pada beberapa bekas merah samar di leher dan pundaknya—jejak dari malam kelam itu. Tubuhnya langsung terguncang hebat. Jemarinya menyentuh jejak itu dengan gemetar. Hatinya seketika diliputi rasa

