Vivian menunduk, air matanya jatuh satu per satu membasahi tangan Leonard yang digenggamnya erat. Suaranya parau, pelan, namun penuh getaran rasa yang tak bisa disembunyikan lagi. “Aku nggak tahu harus marah atau bersyukur, Leonard…” lirihnya. “Kamu sudah mengambil sesuatu yang sangat berharga dariku… sesuatu yang selama ini aku simpan hanya untuk seseorang yang kucintai dan mencintaiku.” Ia menghela napas, menahan isak, lalu melanjutkan, “Tapi kamu juga satu-satunya yang begitu tulus meminta maaf…begitu dalam menyesal…dan aku bisa merasakannya. Kamu bukan pria jahat, tapi kamu juga bukan orang yang mudah untuk aku maafkan.” Matanya terpejam sesaat, seolah mencoba menahan rasa perih yang kembali menyesak. “Kumala…ibuku…bilang kamu merenovasi rumah kami. Kamu diam-diam melakukannya, ngg

