Siang hampir bergeser menuju sore, Kumala duduk di bangku kayu tua di teras rumahnya. Napasnya terhela pelan saat menatap bangunan rumah yang mulai berubah wujud—dinding depan yang dulu kusam kini telah dibersihkan dan mulai disusun kembali dengan bata-bata rapi, kusen pintu pun sudah diganti dengan yang baru dan kokoh. Debu dan suara alat tukang terdengar di sekitar, tapi tak mengganggu ketenangan hatinya. Ada rasa haru yang menyelinap perlahan, seakan rumah itu sedang disembuhkan dari luka lamanya. Dengan hati penuh syukur dan mata yang berkaca-kaca memandangi rumah yang perlahan berubah jadi lebih layak, Kumala duduk di bangku kayu teras rumah. Jemarinya yang mulai menua menggenggam ponsel, menatap nama "Vivian" di layar. “Sudah beberapa hari ini anak itu tidak menelepon…” gumamnya, p

