Erna tampak ragu dan menunduk, pandangannya tak lepas dari wajah pucat Leonard yang terbaring di atas tandu dalam ambulans. Sementara itu, Vivian masih berdiri terpaku, jantungnya berdetak kencang, dan segenap pikirannya berkecamuk antara luka masa lalu dan rasa kemanusiaan. “Bu, siapa yang akan ikut?” ulang petugas sambil menahan pintu ambulans terbuka. Erna melirik Vivian, seolah memberikan isyarat tanpa kata. Vivian mereguk saliva, menunduk sejenak, lalu menghela napas panjang. “Saya bisa ikut,” jawabnya akhirnya, pelan namun tegas. Tanpa menunggu lagi, dia naik ke dalam ambulans dan duduk di samping Leonard. Saat pintu ditutup, anak-anak yang berdiri di depan rumah hanya bisa menatap cemas, tak tahu harus berkata apa. Sirene ambulans kembali meraung, membawa keduanya pergi dalam dia

