Kata-kata itu membuat mantan suami Zahra dan istrinya bungkam. Orang-orang yang awalnya menatap Zahra dengan tatapan menghina beralih menatap kedua orang itu dan Arvin bergantian. Dalam benak mereka, kalau Zahra memang seburuk yang dikatakan oleh kedua orang ini, dia tidak mungkin berhubungan dengan lelaki yang kelihatannya memiliki pengaruh itu. Arvin mendekati Zahra yang berdiri mematung di depan pintu yang setengah terbuka. “Siapa mereka, Za?” tanyanya dengan suara pelan. Zahra akhirnya berani bicara. Suaranya pelan, hampir tenggelam di antara napasnya yang masih tersengal. “Mas… lelaki itu mantan suamiku. Dan perempuan itu istrinya…” Zahra menelan ludah, matanya berkilat menahan emosi. “Dia yang bikin rumah tanggaku hancur.” Rahang Arvin mengeras seketika. Ada detik hening yang

