Gilang menoleh, menatapnya lurus. “Nggak perlu terima kasih, itulah gunanya teman.” Teman? Gilang meringis sendiri, dia sedang berusaha membuat dirinya sendiri sadar akan kenyataan itu. Zahra yang tidak memperhatikan ekspresinya mengangguk pelan. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu menyentuh. Untuk sesaat, hiruk pikuk masalah di kepalanya mereda—digantikan rasa aman yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Jam di ponsel Zahra menunjukkan hampir pukul empat sore ketika ia pamit dari kafe. Kepalanya terasa agak ringan tapi kembali berdenyut pelan, seperti ada kabut tipis yang belum mau pergi. Tubuhnya juga cepat lelah. “Aku pulang dulu ya, Lang,” katanya sambil meraih tas. Gilang langsung berdiri. “Aku anterin, ya. Kamu masih kelihatan agak pucat.” Zahra menggelen

