“Apa, Mas?” Zahra bertanya, seolah telah salah dengar. “Kita akan menikah, Zahra. Secepatnya.” Ulang Arvin, dengan penekanan. Kata-kata itu seolah bergema di dalam kabin mobil. Zahra terdiam, agak terkejut. Otaknya bekerja keras, merangkai makna, konsekuensi, dan ketakutan yang langsung menyerbu. “Mas… ini terlalu cepat.” Ujarnya akhirnya, dengan suara bergetar. “Aku tahu,” Arvin mengangguk. “Persidangan kasus yang sedang kutangani sudah menjelang akhir. Rencananya setelah itu kita akan meikah. Tapi aku tidak bisa menunggu lagi.” Ia menatap Zahra dalam-dalam. “Aku tidak bisa membiarkan kamu tinggal sendirian, rentan seperti ini. Aku harus menghalalkan hubungan kita. Supaya apa pun yang terjadi, aku bisa berdiri di depanmu, melindungi kamu, melindungi anak kita.” Tangan Zahra refleks

