Arvin terdiam lama. Ruang keluarga terasa lebih luas dari biasanya, seolah gema kata cerai masih berputar-putar di udara, memantul di dinding, menekan dadanya tanpa ampun. Ia bersandar di sandaran sofa, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Jam dinding terus berdetak, tiap detiknya terdengar seperti hitungan mundur. Miranda sudah menyatakan sikapnya. Jelas. Tegas. Tidak ada ruang tawar-menawar. Ia tidak akan menerima poligami. Dan jika itu yang Arvin pilih, maka akhir mereka adalah perpisahan. Bukan ini akhir yang Arvin inginkan. Ia mengusap wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Kepalanya pening. Dalam hidupnya sebagai pengacara, ia terbiasa menimbang risiko, menghitung konsekuensi, memilih langkah paling rasional. Tapi malam ini, semua logika terasa tumpul. Y

