Lampu kamar diredupkan. Tirai belum sepenuhnya tertutup, membiarkan cahaya kota menyelinap tipis—cukup untuk memperlihatkan wajah Miranda yang setengah tertutup bayangan. Ia berbaring di sisi Arvin, merasakan kehangatan yang biasanya menenangkan. Biasanya. Malam ini berbeda. Arvin ada di sana secara fisik, tapi pikirannya terasa jauh. Sentuhannya ragu, seperti seseorang yang menghafal gerakan tanpa benar-benar hadir. Ada jeda-jeda aneh—hening yang terlalu panjang—dan helaan napas yang tak sinkron. Miranda memejamkan mata, berharap perasaan itu lenyap. Namun semakin ia menunggu, semakin jelas jarak itu terasa. “Mas,” panggilnya pelan. Arvin menggumam singkat, tidak benar-benar menjawab. Tatapannya mengarah ke langit-langit, rahangnya mengeras. Seolah ada adegan lain yang diputar di kep

