Pagi itu, aroma tanah basah masih tercium dari halaman rumah yang baru saja diguyur hujan semalam. Embun menempel di dedaunan, dan udara Yogyakarta terasa begitu lembut, seolah ikut menjaga ketenangan rumah yang kini dipenuhi lantunan ayat-ayat suci. Tiga hari sudah berlalu sejak kepergian Papa Surya dan Mama Anita. Di ruang tamu, beberapa kerabat masih berkumpul membaca tahlil, sementara Kinan sibuk menyiapkan teh dan kue untuk para tamu yang datang silih berganti. Sesekali pandangannya terarah ke kamar tengah, tempat Bagas berdiam sejak pagi. Ia belum banyak bicara, hanya duduk menatap foto kedua orang tuanya yang kini terbingkai di atas meja, dikelilingi bunga melati segar dan dua lilin putih kecil yang belum padam sejak malam. Kinan menatap dari jauh dengan perasaan campur aduk. Ia

