83

896 Kata

Hujan belum juga reda hingga sore. Langit Yogyakarta meneteskan air mata panjang, seolah meratap bersama rumah besar keluarga Kinan yang kini diselimuti duka. Semua persiapan yang semalam dikerjakan penuh tawa, janur kuning, bunga melati, lampu gantung di pelaminan kecil, kini menjadi saksi bisu dari takdir yang berbelok tajam. Dua mobil jenazah berhenti di depan rumah. Suara sirene pelan mengiringi kedatangan dua peti yang ditutupi kain putih. Warga dan keluarga besar segera berkerumun dengan wajah muram. Ibu Kinan menutup mulutnya, menahan tangis saat melihat peti diturunkan perlahan. Kinan, yang baru tiba dari rumah sakit, berdiri di teras dengan wajah pucat. Ia belum sempat mengganti pakaian, rambutnya masih sedikit basah oleh air hujan, dan matanya bengkak. Saat melihat dua peti kay

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN