Matahari mulai naik perlahan dari ufuk timur, tapi sinarnya tak sehangat biasanya. Yogyakarta pagi itu seperti berkabung. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara yang biasanya segar terasa berat. Di halaman rumah, para tetangga yang semula bersiap untuk acara pernikahan kini berdiri dalam diam, menatap keluarga Kinan yang sibuk berkemas dengan wajah muram. Kinan mengenakan kerudung abu-abu dan jaket tipis, wajahnya pucat dan sembab. Sejak dini hari ia belum berhenti menangis. Setiap kali mengingat Bagas, hatinya terasa perih, antara cemas, takut, dan kehilangan yang belum bisa didefinisikan. Mobil keluarga sudah menunggu di depan. Ibu menggandeng tangan Kinan dengan lembut. "Ayo, Nak. Kita berangkat sekarang. Masih butuh waktu empat jam ke rumah sakit Batang." Kinan mengangguk lemah, l

