80

789 Kata

Pagi di Yogyakarta terasa lebih lembut dari biasanya. Udara masih dingin dengan kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan. Dari balik jendela kamar, Kinan menatap halaman rumah keluarganya yang mulai ramai. Beberapa kerabat sibuk menata kursi, sementara para tetangga membantu di dapur untuk persiapan acara perinbek esok pagi, tradisi kecil sebelum akad, sebagai doa dan ungkapan syukur menjelang pernikahan. Suara ibu-ibu yang bercengkerama di dapur bercampur dengan aroma wangi bunga melati yang sudah disiapkan dalam wadah rotan. Semua tampak sibuk, kecuali Kinan yang masih berdiri termenung di dekat jendela, menggenggam ponselnya erat. Ia baru saja membaca pesan dari Bagas. "Sayang, aku berangkat malam ini, ya. Papa sama Mama juga ikut. Kita sampai Yogya subuh besok." Kinan terse

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN