Beberapa jam telah berlalu sejak pesawat lepas landas dari Jakarta. Langit di luar kini gelap pekat, sesekali dihiasi cahaya bintang yang tampak kecil dari balik jendela oval. Kabin kelas bisnis terasa tenang, hanya suara lembut mesin pesawat dan sesekali langkah pramugari yang melintas di lorong. Kinan masih bersandar di bahu Bagas. Ia tidak tidur, hanya memejamkan mata, menikmati ritme napas pria di sampingnya yang terasa stabil dan menenangkan. Bagas, yang tadi sempat membaca, kini juga meletakkan tabletnya dan memandangi wajah Kinan yang terlihat damai di bawah cahaya redup kabin. "Capek?" tanya Bagas pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Kinan membuka mata perlahan, lalu menggeleng. "Enggak, cuma … belum bisa percaya aja. Kita beneran pergi ke Paris. Dan kita akan pergi bulan mad

