Bulan Madu

1963 Kata

“Emang gak papa, Mbak?” tanya Rania pelan sambil duduk di sofa villa, memandangi perut Arsita yang sudah membuncit enam bulan. Sore itu angin semilir membawa aroma laut, dan suasana villa keluarga benar-benar terasa hangat dan intim. Arsita menoleh dengan senyum lembut, satu tangannya mengelus pelan perutnya yang bergerak pelan karena tendangan si kecil. “Gak apa-apa, serius. Daisy bisa bareng aku dan Anggi ke Jakarta. Kamu dan Mas Prabu kan memang rencananya ke Swiss, jadi gak usah mikirin yang lain. Nikmatin aja waktu kalian.” Rania menggigit bibir, matanya sedikit menunduk. “Tapi aku ngerasa gak enak. Daisy anak aku juga. Aku juga sayang banget ninggalin dia.” Arsita tertawa pelan, napasnya terhela panjang. “Ya udah, bujuk Mas Prabu aja. Toh itu keputusan kalian berdua. Kalau dia set

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN