bc

Istri Musuhku

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
family
forced
opposites attract
heir/heiress
drama
like
intro-logo
Uraian

Dia menikahiku untuk balas dendam, dan aku menerimanya demi menyelamatkan ayahku.

Kami sepakat untuk menikah, namun saling membenci.

Di depan semua orang, Adrian Wiratama memperlakukanku seperti trofi kemenangan, bukti bahwa keluargaku telah kalah.

Di balik pintu kamar, dia mengingatkanku bahwa pernikahan ini hanyalah hukuman.

Tanpa cinta dan tanpa kelembutan.

Tanpa harapan.

Setiap malam di ranjang yang sama, kebencian itu berubah menjadi sesuatu yang lebih panas dan lebih berbahaya.

Dia ingin melihatku hancur.

Sayangnya, dia lupa satu hal,

Aku bukan korban dalam kisah hidupku.

Dan aku tidak pernah bermain untuk kalah.

Dalam perang yang dipenuhi rahasia, manipulasi, dan gairah yang tak terkendali…

yang pertama jatuh cinta akan menjadi yang paling terluka.

Kali ini, aku tidak tahu apakah itu dia...

atau aku.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1. Pernikahan di Atas Dendam
“Sebenarnya, aku tidak ingin menikah denganmu.” Suara Adrian Wiratama terdengar datar, bukan keras tidak juga seperti orang yang sedang marah. Justru suaranya terdengar terlalu tenang dan itulah yang membuat ruang rapat keluarga Pratama terasa semakin mencekam. Aku berdiri di ujung meja panjang itu, kedua tangan terkepal di sisi tubuhku. Gaun putih sederhana yang kupakai terasa seperti ejekan. Seharusnya hari ini adalah rapat penyelamatan perusahaan. Tapi semua orang tahu yang dipertaruhkan bukan hanya bisnis melainkan aku. “Ayahmu sudah menandatangani perjanjian,” lanjut Adrian tanpa menoleh padaku. Tatapannya tertuju pada ayahku yang duduk dengan wajah pucat. “Jika merger ini gagal, seluruh aset Pratama Grup akan disita.” Ayahku hanya bisa menunduk. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihatnya tampak tua dan lemah di hadapan orang seperti Adrian. “Dan satu-satunya cara agar kesepakatan ini tetap berjalan,” sambung Adrian, akhirnya berdiri, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi dan tegap itu, “adalah pernikahan.” Ruangan sunyi. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Ini bukan lamaran. Ini vonis. Tatapannya akhirnya beralih padaku. Ia menatapku dengan tatapan yang dingin, tajam dan tanpa sedikitpun ada kehangatan yang bisa kurasakan, seolah aku ini bukan manusia di matanya. Sepertinya dia memang hanya menganggapku sebuah pion dalam “Kau mau menyelamatkan ayahmu, bukan?” tanyanya pelan. Nada suaranya tidak mengejek. Tapi justru itu yang menyakitkan. Seperti dia sudah tahu jawabannya. Seperti aku tidak punya pilihan lain dan memang… aku tidak punya. --- Semuanya bermula enam bulan lalu, saat itu ada kejadian menggemparkan yang terjadi di keluarga Wiratama. Sang nyonya rumah, ibunya Adrian meninggal dan kemudian beruntut ke hal penggelapan dana perusahaan dan tuduhan sabotase. Dan satu nama yang terus disebut dalam setiap berita, bernama 'Pratama'. Ayahku. Media membakar isu itu tanpa ampun. Wiratama Group, salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini, mengalami kerugian besar akibat investasi gagal yang diduga “diatur” oleh pihak dalam dan entah bagaimana, ayahku menjadi tersangka tidak resmi. Padahal sampai saat ini tidak ada bukti, tidak ada dakwaan, tapi opini publik sudah percaya bahwa dalang dari semua ini adalah ayahku. Adrian mengambil alih perusahaan setelah ibunya meninggal dan sejak hari itu, perang dingin dimulai. Kontrak bisnis dibatalkan. Investor ditarik. Saham Pratama Grup jatuh bebas dan sekarang, dia berdiri di hadapanku, menawarkan satu-satunya cara untuk menghentikan semuanya yaitu menikah dengannya. “Kinara.” Suara ayah memanggilku pelan. Suaranya retak. “Jangan,” bisiknya, tapi sudah terlambat. Aku sudah mengambil keputusan sejak tadi malam. Sejak melihat laporan keuangan perusahaan yang nyaris nol. Sejak melihat ancaman gugatan hukum yang bisa menyeret ayah ke penjara. Aku mengangkat dagu. “Baik,” kataku pelan. Semua orang di ruangan itu terdiam. Adrian menyipitkan mata. “Apa?” Tanyanya memastikan ucapanku barusan. “Aku akan menikah denganmu.” Hening. Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Tidak ada ekspresi puas. Justru sesuatu yang lain. Seperti dia tidak menyangka aku akan setuju secepat ini. “Tapi aku punya syarat,” lanjutku sebelum keberanianku menguap. Alisnya terangkat tipis. “Kau tidak dalam posisi untuk menawar.” “Pernikahan ini hanya perjanjian bisnis,” kataku tegas. “Kita akan tampil sebagai pasangan sempurna di depan publik. Tapi secara pribadi, kita hidup masing-masing.” Mata hitamnya menelanjangiku tanpa menyentuh. “Kau pikir ini negosiasi?” suaranya turun satu nada. “Aku tidak membutuhkan istri pura-pura.” Aku menelan ludah. “Lalu apa yang kau butuhkan?” Dia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak kami tinggal beberapa senti. Aku bisa mencium aroma maskulin samar dari tubuhnya. Kayu cedar dan sesuatu yang dingin. “Yang kubutuhkan,” bisiknya tepat di depan wajahku, “adalah pengingat.” “P-pengingat apa?” “Bahwa keluargamu berutang padaku. Kau adalah jaminan.” Jantungku berdebar keras. “Dan kau,” lanjutnya, tatapan itu menurun perlahan ke bibirku lalu kembali ke mataku, “akan membayar utangnya. Baik secara materi ataupun yang lainnya.” Dia berdiri di hadapanku, menawarkan satu-satunya cara untuk menghentikan semuanya. Menikah dengannya. --- Akhirnya, pernikahan itu berlangsung dua minggu kemudian. Pernikahan yang tidak berlandaskan atas nama cinta dan kebahagiaan. Media menyebutnya sebagai “aliansi strategis antara dua keluarga besar.” Tidak ada yang tahu bahwa itu adalah bentuk balas dendam paling elegan. Gaun pengantinku indah. Terlalu indah untuk suasana hatiku yang sama sekali tidak mengharapkan peristiwa ini terjadi. Aku berjalan di lorong gereja dengan kepala tegak. Setiap langkah terasa berat, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun melihatku goyah. Adrian berdiri di altar, tampan dan dingin seperti patung marmer. Tatapannya tidak berubah sedikit pun saat aku berdiri di sampingnya. Ketika pendeta menanyakan kesediaannya— “Aku bersedia.” Suaranya mantap tanpa emosi. Saat giliranku, aku menarik napas panjang. “Aku bersedia.” Dan dengan itu, nasibku terkunci bersamanya. Saat malam pertama tiba sebagai istri dari Adrian Wiratama, aku sudah berada di kamar utama di penthouse miliknya. Kamar itu terasa luas dan asing. Aku berdiri di dekat jendela, memandangi lampu kota yang berkilauan. Gaun putih sudah kuganti dengan gaun tidur sederhana. Tanganku gemetar, tapi aku memaksanya diam. Suara pintu terbuka dan Adrian masuk. Jasnya sudah dilepas. Dasi terkulai longgar di lehernya. Dia menutup pintu perlahan. Klik. Suara itu terasa seperti kunci penjara. “Kau terlihat terlalu tenang,” katanya. “Apa kau berharap aku menangis?” Dia mendekat. “Aku berharap kau sadar apa arti pernikahan ini.” “Aku sadar.” “Oh ya?” dia berdiri tepat di belakangku sekarang. “Coba jelaskan.” Aku berbalik menghadapnya. “Ini transaksi.” Tatapan matanya menggelap. “Salah.” Satu tangannya terangkat. Jarinya menyentuh daguku, mengangkat wajahku sedikit lebih tinggi. “Ini hukuman.” Napas kami bertabrakan. “Dan kau pikir aku akan tunduk?” tanyaku pelan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Kita lihat saja.” Tangannya turun perlahan, tapi bukan untuk melepaskanku. Dia menarikku mendekat. Tubuh kami nyaris tanpa jarak. “Jangan pernah lupa,” bisiknya, “kau tinggal di rumahku. Menggunakan namaku. Hidup karena belas kasihanku.” Aku menatapnya lurus. “Dan jangan pernah lupa,” balasku pelan, “kau memilihku.” Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan kebencian. Bukan amarah. Melainkan tantangan. Tangannya mencengkeram pinggangku lebih erat. “Kalau kau mau menjadi istriku,” suaranya rendah, “bersikaplah seperti istriku.” Jantungku bergetar. “Dan kalau kau ingin balas dendam,” kataku pelan, “lakukan dengan cara yang berani. Jangan bersembunyi di balik cincin pernikahan.” Hening. Udara terasa panas dan berbahaya. Dia menatapku beberapa detik lebih lama. Lalu tiba-tiba dia melepaskanku. “Menarik,” gumamnya. Dia berjalan ke arah sofa dan duduk santai, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kita mulai besok,” katanya. “Mulai apa?” “Permainan ini.” Aku berdiri diam, mencoba mengatur napas. Aku tahu satu hal dengan pasti malam itu. Pernikahan ini bukan tentang siapa yang lebih membenci. Ini tentang siapa yang lebih dulu hancur dan aku tidak berniat menjadi yang pertama. Tapi aku belum tahu bahwa Adrian Wiratama tidak pernah bermain untuk kalah. Dan aku baru saja masuk ke dalam perang yang tidak kumengerti sepenuhnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.3K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
14.3K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.6K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.2K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook