BAB 2 Kebencian yang Tak Mendasar

1763 Kata
Pagi pertamaku sebagai Ny. Wiratama dimulai dengan kehancuran kecil. “Apa maksud semua ini?” Aku berdiri di depan lemari besar di kamar utama, menatap pakaian-pakaianku yang sudah tidak ada. Kosong. Semua gaun, tas, bahkan koper yang kubawa semalam menghilang tanpa jejak. Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Adrian baru selesai mandi. Rambut hitamnya masih sedikit basah, kemeja putih yang belum dikancing sempurna membuatnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menghancurkan hidup orang lain. Dia melirik lemari itu sekilas. “Aku menyuruh pelayan memindahkannya.” “Apa?” “Kau tinggal di kamar tamu mulai malam ini.” Aku menatapnya tak percaya. “Kita sepakat tampil sebagai pasangan di depan publik. Kita juga tidak pernah sepakat tidur sekamar.” Tatapannya dingin. “Dan aku tidak suka berbagi ruang,” sambungnya. Aku tertawa kecil sarkastis. “Lucu. Padahal kau yang memaksaku menikah.” “Aku memaksamu menjadi istriku,” katanya santai sambil memasang jam tangan. “Bukan menjadi pusat hidupku.” Kalimat itu menusuk lebih tajam dari yang seharusnya, tapi aku menolak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. “Kalau begitu kenapa masih mempertahankan kamar ini?” tanyaku. “Bukankah mantan tunanganmu dulu juga tidur di sini?” Gerakannya berhenti sepersekian detik. Kena. Aku tahu tentang Selena Mahardika. Model terkenal, cantik dan elegan. Mantan tunangan sempurna untuk pewaris keluarga Wiratama. Mereka hampir menikah tahun lalu sebelum semuanya hancur mendadak dan entah kenapa, sejak semalam aku merasa ada sesuatu yang tidak beres setiap kali namanya disebut. Tatapan Adrian berubah tajam. “Jangan membahas hal yang bukan urusanmu.” “Nah,” aku tersenyum tipis. “Berarti aku benar.” Dia berjalan mendekat. Sangat dekat. “Kau tampaknya lupa posisi.” “Tidak,” bisikku. “Aku hanya tidak takut padamu.” Rahangnya menegang. Untuk sepersekian detik, suasana di antara kami berubah panas. Bukan karena cinta, tapi karena ego. Dan aku mulai sadar Adrian bukan hanya pria dingin. Dia terbiasa menang dan pria seperti itu akan membenci siapa pun yang berani melawannya. --- Hari itu media langsung meledak. “Pernikahan mengejutkan Adrian Wiratama!” “Aliansi bisnis atau cinta?” “Putri keluarga Pratama resmi menjadi nyonya muda Wiratama Group!” Foto kami memenuhi internet. Wajah kami yang tersenyum, berdiri berdampingan, pose mesra terlihat begitu sempurna. Padahal tadi pagi kami nyaris saling membunuh dengan tatapan. “Ada wawancara makan malam nanti,” kata Adrian saat mobil kami melaju menuju kantor pusat Wiratama Group. Aku menoleh. “Secepat itu?” “Publik harus percaya bahwa kita pasangan bahagia.” “Dan kalau aku menolak?” Dia tersenyum tipis tanpa menatapku. “Kau tidak akan.” Aku mendengus pelan. “Aku mulai bosan dengan sifat sok mengendalikanmu.” “Kau akan lebih bosan lagi nanti.” Aku menatap keluar jendela, mencoba mengabaikan pria di sampingku, tapi itu cukup sulit. Adrian terlalu… mencolok. Bahkan saat diam. Aura dominannya memenuhi ruangan tanpa perlu usaha dan itu menjengkelkan. “Ada satu aturan lagi,” katanya tiba-tiba. “Apa?” “Jangan pernah mempermalukanku di depan publik.” Aku tertawa kecil. “Bukankah kau yang paling ahli melakukan itu?” Tatapannya akhirnya beralih padaku. “Tapi aku tidak pernah kalah.” Kalimat itu terdengar seperti ancaman. Kantor pusat Wiratama Group jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Gedung tinggi penuh kaca hitam menjulang angkuh di tengah kota, seolah sengaja menunjukkan kekuasaan keluarga mereka. Begitu kami masuk ke lobby, semua orang langsung membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Adrian.” “Selamat pagi, Nyonya.” Nyonya. Aku masih belum terbiasa dipanggil seperti itu. Adrian berjalan di sampingku tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat semua orang berpikir kami pasangan mesra. Lift privat terbuka. Begitu pintu tertutup, suasana hangat itu langsung lenyap. “Ada acara gala malam ini,” katanya. “Aku tahu.” “Kau akan ikut denganku.” “Aku juga tahu.” “Kau terlihat terlalu santai.” Aku melipat tangan. “Karena aku tidak berniat lari.” Dia tersenyum miring. “Bagus.” Pintu lift terbuka di lantai paling atas dan saat itulah aku melihatnya. Seorang wanita berdiri di depan ruang CEO. Tinggi, elegan, cantik dengan cara yang menusuk. Matanya langsung tertuju pada Adrian lalu padaku. Senyumnya perlahan memudar. “...Kau benar-benar menikah.” Suasana berubah dingin. Aku langsung tahu siapa dia. Selena. Mantan tunangan Adrian dan dari cara wanita itu menatapku dia membenciku bahkan sebelum aku membuka mulut. Adrian tetap tenang. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Aku seharusnya bertanya begitu.” Selena tertawa kecil pahit. “Kau menikah dua minggu setelah membatalkan pertunangan kita?” Aku bisa merasakan ketegangan yang aneh. Bukan sekadar hubungan gagal. Ada sesuatu yang lebih dalam. “Aku sibuk,” jawab Adrian datar. Selena menatapku lama. “Jadi ini wanita pilihanmu?” Aku mengangkat alis. “Masalah?” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Oh, aku hanya penasaran.” Tatapannya turun ke cincin di jariku. “Apa kau tahu pria yang kau nikahi bahkan tidak percaya pada cinta?” Aku membalas tenang. “Bagus. Karena aku juga tidak.” Untuk pertama kalinya, Adrian menoleh padaku. Tatapannya sulit dibaca. Selena tertawa kecil, tapi matanya jelas terluka. “Kalau begitu kalian memang cocok.” Dia melangkah pergi, tetapi berhenti tepat di sampingku. Lalu berbisik pelan, “Hati-hati.” Aku menegang. “Pria itu menghancurkan semua yang dia sentuh.” Setelah dia pergi, suasana menjadi sunyi. Aku menoleh pada Adrian. “Dia masih mencintaimu.” “Bukan urusanmu.” “Dan kau masih marah padanya.” Tatapannya berubah tajam. “Kau terlalu banyak bicara.” Aku tersenyum tipis. “Kau terlalu mudah ditebak.” Dan entah kenapa sejak menikah, aku melihat emosi nyata di wajah Adrian Wiratama. --- Malam gala berlangsung mewah dan penuh kepalsuan. Lampu kristal bergantung megah di ballroom hotel bintang lima. Musik klasik mengalun lembut, sementara para tamu sosialita sibuk tersenyum palsu satu sama lain. Tanganku melingkar di lengan Adrian. Bukan karena ingin. Tapi karena semua kamera mengarah pada kami. “Sedikit lebih dekat,” bisiknya pelan tanpa senyum. “Aku bukan aktris.” “Tapi kau cukup pandai berpura-pura.” Aku menatapnya tajam. Sebelum sempat membalas, suara tepuk tangan terdengar dari depan panggung. “Tuan Adrian! Bisakah berfoto bersama istri Anda?” Kilatan kamera langsung memenuhi ruangan. Adrian menarik pinggangku mendekat. Terlalu dekat. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya melalui kain gaunku. Senyumnya muncul di depan kamera. Sempurna. Mematikan. Palsu. “Lihat?” bisiknya pelan di telingaku. “Kita pasangan yang indah.” “Aku lebih suka pasangan kriminal.” “Terlambat. Kau sudah terjebak.” Klik. Klik. Klik. Foto-foto terus diambil dan di tengah semua senyum palsu itu, aku menyadari sesuatu yang mengerikan, aku mulai terbiasa berada di dekatnya. “Permisi, Nyonya Wiratama.” Seorang wanita paruh baya menghampiriku saat Adrian sedang berbicara dengan investor. “Ya?” “Saya mendengar keluarga Anda hampir bangkrut.” Ah. Akhirnya dimulai. Aku tersenyum tipis. “Berita media memang suka dilebih-lebihkan.” “Tapi bukankah ayah Anda terlibat kasus penggelapan?” Beberapa orang mulai memperhatikan. Aku tahu ini jebakan sosialita klasik. Mempermalukan seseorang di depan umum sambil pura-pura penasaran. Aku baru membuka mulut ketika suara dingin Adrian terdengar dari belakang. “Istri saya tidak perlu menjawab pertanyaan murahan seperti itu.” Wanita itu langsung pucat. “A-ah, saya hanya—” “Kalau Anda terlalu banyak waktu untuk bergosip,” lanjut Adrian tenang, “mungkin saya bisa meminta suami Anda menjelaskan kenapa perusahaannya merugi tiga kuartal berturut-turut.” Mati. Wanita itu langsung pergi dengan wajah merah. Aku menatap Adrian beberapa detik. “Kau baru saja membelaku?” “Aku menjaga nama keluargaku dan yang boleh merendahkanmu itu hanya aku.” “Jadi aku bagian dari keluargamu sekarang?” Tatapannya turun ke bibirku sebentar sebelum kembali naik. “Kau memakai nama belakangku.” Jantungku berdetak aneh dan aku membencinya. Karena pria ini terus memberiku potongan kecil perhatian… tepat saat aku mulai yakin dia monster sepenuhnya. Malam semakin larut ketika aku akhirnya keluar ke balkon ballroom untuk mencari udara. Kepalaku pusing menghadapi terlalu banyak kepalsuan. Aku memejamkan mata sesaat. “Menyesal?” Suara Adrian muncul dari belakang. Aku tidak menoleh. “Setiap detik.” Dia berdiri di sampingku sekarang. Angin malam membuat rambut hitamnya sedikit berantakan. “Kalau begitu kenapa tetap bertahan?” Aku tertawa kecil pahit. “Kau tahu jawabannya.” Ayahku, perusahaan, keluargaku. Semua ada di tangannya. Adrian menatap kota di depan kami. “Ayahmu bukan orang baik, Kinara.” “Ayahmu juga tidak.” Tatapannya langsung berubah dingin. “Apa maksudmu?” Aku menoleh perlahan. “Menurutmu hanya keluargamu yang menderita?” Hening. Aku bisa melihat rahangnya menegang. “Ayahku kehilangan banyak hal juga.” “Karena dia pantas mendapatkannya.” “Dan siapa yang memutuskan itu? Kau?” Suasana mendadak panas. “Aku melihat sendiri ibuku hancur!” suara Adrian akhirnya naik sedikit. “Aku melihat bagaimana keluargaku dipermalukan!” “Dan kau pikir keluargaku tidak?” Napas kami sama-sama berat sekarang. Untuk pertama kalinya topeng tenang itu retak. “Ayahku tidak membunuh ibumu,” kataku pelan. Tatapan Adrian berubah gelap. “Jangan pernah membahas ibuku.” “Tapi itu alasan sebenarnya, kan?” Hening. Dan dalam diam itu aku sadar satu hal. Luka Adrian jauh lebih dalam dari yang terlihat. Itulah sebabnya dia begitu penuh kebencian. Begitu dingin. Begitu kejam. Karena seseorang yang benar-benar hancur biasanya berhenti percaya pada kelembutan. “Aku tidak peduli siapa yang benar,” katanya akhirnya dengan suara rendah. “Yang aku tahu, keluargamu menghancurkan keluargaku.” “Jadi kau menghancurkanku untuk balas dendam?” “Ya.” Jawaban jujur itu justru membuat dadaku sesak. Aku tertawa kecil pahit. “Setidaknya kau jujur.” Dia menatapku lama. Lalu berkata pelan, “Dan kau… kenapa mau menikah denganku?” Aku terdiam. Karena untuk pertama kalinya aku tidak tahu harus menjawab apa. Apakah demi ayahku? Demi perusahaan? Atau karena sebagian kecil diriku penasaran pada pria rusak di depanku ini? Aku belum sempat menjawab ketika suara teriakan terdengar dari dalam ballroom. “Api! API!” Semua orang panik. Aku menoleh cepat. Asap mulai muncul dari salah satu sisi ruangan. Tamu-tamu berteriak. Kekacauan pecah dalam hitungan detik dan sebelum aku sempat bereaksi lampu ballroom mati total. Gelap. Orang-orang menjerit. Tubuhku refleks menegang. Lalu tiba-tiba seseorang menarik tanganku kuat. Adrian. “Jangan lepas dariku!” katanya tajam. Suara alarm mulai berbunyi. Asap semakin tebal. Aku batuk keras. “Adrian—” “Pegang aku!” Tangannya mencengkeram pinggangku erat saat kami bergerak di tengah kerumunan panik. Tapi di tengah kekacauan itu aku melihat sesuatu. Seseorang berdiri di ujung lorong gelap memperhatikan kami dan sebelum sosok itu menghilang, aku melihat satu hal yang membuat darahku membeku, dia tersenyum. Seolah kebakaran ini bukan kecelakaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN