BAB 3 Api dan Rahasia

1509 Kata
“Kinara!” Suara Adrian terdengar samar di tengah kepulan asap. Tangannya masih menggenggam pergelangan tanganku erat, nyaris menyakitkan. Orang-orang berdesakan menuju pintu darurat sambil berteriak panik. Beberapa wanita menangis, sementara suara alarm menusuk telinga tanpa henti. Aku menoleh ke belakang sekali lagi. Sosok itu sudah hilang. “Ayo!” Adrian menarikku lebih cepat. Kami berhasil keluar menuju lorong belakang hotel. Udara malam langsung menghantam wajahku, dingin dan tajam setelah sesak asap di dalam ballroom. Aku batuk keras. Adrian menahan bahuku. “Kau baik-baik saja?” Aku mengangguk pelan meski dadaku masih terasa panas. Petugas keamanan mulai berlarian. Lampu merah mobil pemadam memenuhi area depan hotel. Para tamu berdiri kacau di luar gedung dengan wajah panik. “Apa yang terjadi?” “Ada ledakan kecil di dapur katanya!” “Tidak, aku dengar korsleting!” Suara-suara bersahutan. Tapi pikiranku masih tertahan pada pria di lorong tadi. Tatapan itu, senyum itu, bukan wajah seseorang yang takut di tengah kebakaran itu. Melainkan seseorang yang puas dan entah kenapa… firasat buruk mulai merayap di dadaku. “Apa kau melihat sesuatu?” Aku menoleh cepat. Adrian sedang menatapku tajam. “Apa?” “Kau terus melihat ke belakang.” Aku ragu sepersekian detik lalu menggeleng. “Tidak.” Dia menyipitkan mata seolah tahu aku berbohong, namun sebelum sempat bertanya lagi, seorang pria berlari menghampiri kami. “Tuan Adrian!” Pria itu memakai setelan hitam dan earphone kecil di telinga. Dia adalah bodyguard. “Apa?” tanya Adrian dingin. “Kebakaran sudah dikendalikan. Tapi ada satu masalah.” “Apa lagi?” Pria itu tampak ragu sebelum berkata pelan, “Ada seseorang yang masuk ke ruang VIP Anda sebelum kebakaran terjadi.” Tatapan Adrian langsung berubah tajam. “Siapa?” “Kami belum tahu. CCTV lantai tiga mati sekitar sepuluh menit.” Sunyi. Aku bisa merasakan tubuh Adrian menegang di sampingku. “Periksa semuanya,” katanya rendah. “Sekarang.” “Baik, Tuan.” Pria itu pergi cepat. Aku melipat tangan pelan. “Kau punya banyak musuh rupanya.” “Bisnis besar memang begitu.” “Tapi ini terasa personal.” Tatapannya beralih padaku. “Itu bukan urusanmu.” Aku tertawa kecil tanpa humor. “Kau sering mengatakan itu.” “Karena kau terlalu ingin tahu.” “Dan kau terlalu tertutup.” Angin malam meniup rambutku berantakan. Aku merapikannya perlahan sambil menatap hotel yang masih dipenuhi kepulan asap. “Apa semua hidupmu selalu seperti ini?” tanyaku pelan. “Seperti apa?” “Penuh ancaman.” Adrian diam beberapa detik. Lalu menjawab tanpa ekspresi. “Ya.” Jawaban singkat itu entah kenapa terasa lebih jujur daripada semua percakapan kami sebelumnya. Perjalanan pulang berlangsung sunyi. Mobil hitam itu melaju membelah jalan kota yang basah oleh gerimis malam. Aku memandangi lampu-lampu gedung dari jendela sambil memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Peristiwa kebakaran itu, pria misterius, tatapan Adrian setiap kali nama keluargaku disebut dan pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku apa sebenarnya yang terjadi antara keluarga kami di masa lalu? “Berhenti menatapku.” Aku menoleh cepat. Adrian masih fokus pada tablet di tangannya. “Aku tidak menatapmu.” “Kau menatap pantulan kaca.” Sial. Aku mendecakkan lidah. “Percaya diri sekali.” “Aku memang menarik.” Aku hampir tersedak mendengar nada santainya. Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Adrian terlihat sedikit terangkat. Kecil sekali, tapi nyata. Dan anehnya… itu membuat wajah dinginnya terlihat jauh lebih berbahaya. “Kau tersenyum?” tanyaku refleks. Dia langsung kembali datar. “Khayalanmu terlalu liar.” “Hah.” Mobil berhenti di depan penthouse. Begitu masuk ke dalam, suasana hangat langsung menyambut kami. Namun rasa nyaman itu tidak bertahan lama. Karena seseorang sedang duduk di ruang tamu. Seorang wanita. Aku langsung mengenalinya, Selena. Mantan tunangan Adrian berdiri perlahan saat melihat kami masuk. “Syukurlah,” katanya cepat. “Aku lihat berita kebakaran itu.” Tatapan Adrian langsung dingin lagi. “Bagaimana kau bisa masuk?” “Aku masih tahu password lift privatmu.” Aku mengangkat alis kecil. Wow, berani juga wanita ulat bulu ini. Selena tampak baru sadar ada aku di sana. Wajahnya berubah sedikit kaku. “Oh… maaf. Aku hanya khawatir.” “Kau sudah lihat kami baik-baik saja,” kata Adrian datar. “Sekarang pulanglah.” Aku bahkan bisa merasakan hawa dingin dari nada suaranya, namun Selena tidak bergerak. “Aku cuma ingin bicara sebentar.” “Aku tidak punya waktu.” “Ini tentang ibumu.” Ruangan mendadak sunyi. Aku melihat perubahan kecil di wajah Adrian. Rahangnya mengeras, tatapannya membeku dan itu cukup untuk membuatku tahu topik ini penting. “Aku akan ke kamar,” kataku pelan, tidak ingin terlibat. Namun sebelum sempat melangkah, suara Adrian menghentikanku. “Tetap di sini.” Aku menoleh bingung. Tatapannya masih pada Selena. “Aku tidak suka pembicaraan rahasia.” Selena tertawa pahit. “Lucu sekali. Setelah semua rahasia yang kau simpan dariku?” “Apa maumu?” Wanita itu menarik napas panjang. “Aku mendengar sesuatu.” “Apa?” “Orang yang bertanggung jawab atas kematian ibumu… mungkin bukan keluarga Pratama.” Jantungku langsung berdetak keras. Aku menatap Selena tajam. Apa maksudnya? Namun ekspresi Adrian sama sekali tidak berubah. Justru terlalu tenang. “Siapa yang memberitahumu itu?” “Ayahku.” Hening. “Dan kenapa aku harus percaya?” tanya Adrian dingin. “Karena ayahku dulu bekerja sama dengan ibumu.” Aku melihat tangan Adrian perlahan mengepal. “Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?” tanyaku tanpa sadar. Dua pasang mata langsung menoleh padaku dan untuk pertama kalinya sejak menikah aku merasa benar-benar berada di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dendam keluarga. “Keluar.” Suara Adrian rendah dan berbahaya. Selena tampak kecewa. “Aku serius.” “Aku bilang keluar.” “Adrian—” “SEKARANG.” Aku sedikit terkejut mendengar nada suaranya meninggi. Selena menatapnya lama sebelum akhirnya mengambil tasnya. Namun sebelum pergi, dia menoleh padaku. Tatapannya aneh, campuran iba dan peringatan. “Kalau aku jadi kau,” katanya pelan, “aku akan berhati-hati.” Setelah mengatakan itu, dia pergi. Aku menatap Adrian yang berdiri membelakangiku sekarang. Bahunya nampak tegang. “Apa maksud semua itu?” Dia tidak menjawab. “Adrian.” “Tidurlah.” Aku tertawa kecil tak percaya. “Jadi begitu? Setelah semua omongannya?” Dia berbalik cepat, tatapan matanya gelap. “Jangan ikut campur.” “Kau menyeretku ke dalam hidupmu, lalu menyuruhku diam?” “Kau tidak tahu apa-apa.” “Karena kau tidak pernah menjelaskan!” Suasana mendadak panas lagi. Aku melangkah mendekat. “Kalau kau benar-benar percaya ayahku bersalah,” kataku tajam, “kenapa sekarang terlihat terguncang?” Mata Adrian menatapku lurus dan lama. Lalu dia berkata pelan, “Karena aku mulai takut.” Jantungku berhenti sepersekian detik. “Apa?” Tatapannya turun sesaat sebelum kembali ke mataku. “Takut kalau selama ini… aku membenci orang yang salah.” Aku tidak tahu kenapa, tapi dadaku terasa sesak melihatnya dan itu berbahaya. Karena aku seharusnya membenci pria ini. Bukan mulai memahaminya. --- Malam semakin larut. Aku berdiri di balkon kamar tamu dengan pikiran kacau. Angin dingin meniup tirai tipis di belakangku. Aku terus memikirkan kata-kata Selena. “Mungkin bukan keluarga Pratama.” Kalau itu benar berarti semua ini sia-sia. Pernikahan ini, kebencian Adrian, kehancuran keluargaku. Semua dibangun di atas kebohongan. Tok. Aku menoleh. Adrian berdiri di ambang pintu kamar. Masih memakai kemeja putih yang sedikit kusut. “Kenapa belum tidur?” Aku memalingkan wajah lagi. “Tidak bisa.” Dia masuk perlahan, aneh. Biasanya pria itu selalu menjaga jarak. Tapi sekarang dia berdiri tepat di sampingku. “Kau takut?” tanyanya tiba-tiba. Aku tertawa kecil. “Haruskah?” “Menjadi istriku bukan hal aman.” “Aku sudah sadar sejak hari pertama.” Hening. Suara hujan mulai turun perlahan di luar. Lalu tanpa kuduga Adrian melepas jasnya dan menyampirkannya di pundakku. Aku menegang. “Apa ini?” “Kau kedinginan.” Aku menatapnya bingung. “Bukankah kau membenciku? Harusnya kau membiarkan aku mati kedinginan biar dendammu terbalaskan.” Tatapan matanya turun ke wajahku perlahan. “Aku juga belum mengerti kenapa aku melakukan itu.” Napas kami terasa terlalu dekat. Jantungku mulai berdetak aneh lagi dan aku membencinya. Membenci cara pria ini perlahan merusak pertahananku tanpa benar-benar mencoba. “Apa kau pernah menyesal?” tanyaku pelan. “Menikahimu?” Aku mengangguk kecil. Dia diam beberapa detik. Lalu berkata, “Belum.” Jawaban itu entah kenapa terasa jauh lebih berbahaya daripada kalau dia berkata manis. Karena Adrian tidak pernah berbasa-basi. Kalau dia mengatakan sesuatu dia sungguh memikirkannya. Aku menelan ludah pelan. Dan sebelum suasana menjadi semakin aneh ponsel Adrian tiba-tiba berdering. Dia langsung mengangkatnya. “Apa?” Wajahnya berubah dingin dalam hitungan detik. “Kapan?” … “Apa kau yakin?” … “Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan itu.” Dia mematikan telepon. “Ada apa?” tanyaku refleks. Tatapannya langsung menusukku. “Ruang arsip lama Wiratama Group dibobol.” Jantungku berdetak keras. “Dan seseorang,” lanjutnya pelan, “mencari file tentang ayahmu.” Aku membeku. Karena entah kenapa aku punya firasat buruk. Kku merasa ada seseorang yang sedang memainkan kami berdua dari balik bayangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN