“Apa maksudmu file tentang ayahku dicuri?”
Aku berdiri tegak menatap Adrian, sementara hujan di luar balkon turun semakin deras. Suasana mendadak berubah tegang lagi.
Adrian berjalan menjauh dariku sambil membuka kancing mansetnya satu per satu.
“Aku belum tahu.”
“Tapi seseorang masuk ke ruang arsip tepat setelah kebakaran gala?” tanyaku tajam. “Itu bukan kebetulan.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Dia menoleh.
Tatapan gelap itu kembali muncul.
“Lalu seseorang ingin memastikan masa lalu tetap terkubur.”
Dadaku mulai terasa tidak nyaman. Aku selalu tahu dunia bisnis keluarga kami kotor. Terlalu banyak uang, terlalu banyak kekuasaan, terlalu banyak orang yang rela menghancurkan hidup orang lain demi keuntungan.
Tapi ini.... ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih pribadi dan lebih berbahaya.
“Ayahku benar-benar tidak membunuh ibumu, kan?”
Hening.
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti bom. Adrian menatapku lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak tahu lagi.”
Jawaban itu seharusnya membuatku lega, tapi justru lebih menakutkan. Karena jika Adrian mulai meragukan keyakinannya sendiri… berarti ada sesuatu yang selama ini disembunyikan darinya.
Dan orang yang menyembunyikannya mungkin cukup kuat untuk menghancurkan siapa saja.
---
Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara ketukan pintu.
“Nyonya?”
Aku membuka mata perlahan.
Seorang pelayan berdiri di depan kamar tamu dengan wajah gugup.
“Tuan Adrian meminta Anda turun untuk sarapan.”
Aku hampir tertawa.
Meminta?
Lebih tepatnya memerintah, namun aku tetap turun beberapa menit kemudian. Ruang makan penthouse itu luas dan modern, didominasi warna hitam dan abu-abu dingin. Sangat cocok dengan pemiliknya. Adrian sudah duduk di ujung meja sambil membaca berita di tablet.
“Pagi,” kataku datar.
“Hm.”
Aku duduk berseberangan dengannya. Pelayan mulai menyajikan makanan.
Sunyi.
Canggung.
Sampai akhirnya Adrian meletakkan tabletnya.
“Hari ini kau ikut denganku.”
Aku mengangkat alis.
“Kemana?”
“Kantor pusat lama Wiratama.”
“Kenapa aku harus ikut?”
Tatapannya lurus ke mataku.
“Karena file tentang ayahmu hilang.”
Aku berhenti memegang gelas.
“Kau mencurigaiku?”
“Aku mencurigai semua orang.”
Aku mendecakkan lidah pelan.
“Kau benar-benar menyenangkan sebagai suami.”
“Aku tidak menikah untuk menjadi menyenangkan.”
Aku memutar mata.
Dan anehnya, percakapan seperti ini mulai terasa normal.
Itu masalah besar.
Gedung lama Wiratama Group berdiri di pusat kota tua. Berbeda dari kantor pusat modern mereka sekarang, bangunan ini terlihat lebih klasik dan suram.
Begitu masuk, suasana langsung terasa berat.
“Ada yang aneh dengan tempat ini,” gumamku.
“Karena terlalu banyak rahasia disimpan di sini.”
Aku menoleh.
Nada suara Adrian terdengar serius. Seorang pria tua menghampiri kami cepat.
“Selamat pagi, Tuan Adrian.”
“Mana ruang arsipnya?”
“Di lantai bawah.”
Kami berjalan melewati lorong panjang yang minim cahaya. Entah kenapa bulu kudukku meremang. Ruang arsip itu ternyata lebih besar dari dugaanku. Rak-rak tinggi dipenuhi dokumen lama dan kotak penyimpanan.
Pintu besinya rusak.
“Seseorang membobol paksa,” kata pria tua tadi.
Adrian langsung masuk. Tatapannya menyapu ruangan dengan tajam seperti predator.
“Apa yang hilang?” tanyaku.
Pria tua itu tampak ragu.
“Tiga file.”
“File apa?” tanyaku lagi.
Dia menelan ludah.
“Kasus kematian Nyonya Helena Wiratama.”
Jantungku langsung berdetak keras.
Ibunya Adrian.
“Dan dua file investasi lama antara keluarga Wiratama dan Pratama.”
Aku menoleh cepat ke Adrian. Wajah pria itu membeku. Dingin sekali sampai membuat udara terasa lebih berat.
“Ada yang tahu isi file itu?” tanyanya rendah.
“Hanya beberapa petinggi lama perusahaan.”
“Nama.”
Pria itu menyebut beberapa nama. Aku memperhatikan perubahan kecil di wajah Adrian ketika satu nama disebut.
“Leonard Mahardika.”
Aku langsung mengenali nama belakang itu. Mahardika adalah ayah Selena.
“Ayah mantan tunanganmu?” tanyaku pelan setelah pria itu pergi.
Adrian tidak langsung menjawab.
“Itu bukan kebetulan,” lanjutku.
“Belum tentu.”
“Tapi Selena datang tadi malam.”
Tatapannya berubah tajam.
“Kau mencoba menuduhnya?”
“Aku mencoba berpikir logis.”
Dia mendekat perlahan.
“Kau terlalu cepat percaya pada orang.”
Aku tertawa kecil pahit.
“Lucu sekali mendengar itu dari pria yang menikahiku karena asumsi.”
Hening.
Ketegangan kembali muncul, namun sebelum salah satu dari kami bicara lagi suara sesuatu jatuh terdengar dari ujung ruangan.
Brak!
Aku refleks menoleh.
“S-siapa di sana?”
Sunyi.
Adrian langsung bergerak cepat ke arah suara. Aku mengikutinya dan saat sampai di balik rak arsip tak ada siapa pun.
Hanya sebuah map cokelat tergeletak di lantai.
Adrian mengambilnya perlahan. Lalu wajahnya berubah dingin.
“Apa itu?”
Dia tidak menjawab. Aku merebut map itu dari tangannya. Dan saat membaca tulisan di sana darahku langsung terasa dingin.
LAPORAN AUTOPSI – HELENA WIRATAMA
Tanganku sedikit gemetar membuka dokumen itu. Mata kami langsung tertuju pada satu kalimat.
— ditemukan kandungan racun dalam tubuh korban.
Aku membeku.
“Racun?”
Suara Adrian terdengar sangat rendah.
“Ayahmu bilang ibuku bunuh diri.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Ayahku tidak mungkin—”
“Kalau ini benar,” potongnya tajam, “berarti seseorang membunuh ibuku.”
Ruangan mendadak terasa sesak.
Aku membaca halaman berikutnya cepat dan di sana tertulis satu nama yang membuat napasku tercekat. Saksi terakhir yang menemui Helena Wiratama sebelum kematian:
Rendra Pratama.
Ayahku.
“Oh Tuhan…”
Aku mundur satu langkah.
Tidak.
Tidak mungkin.
“Aku tidak tahu soal ini,” bisikku cepat.
Tatapan Adrian perlahan terangkat padaku dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah aku benar-benar takut pada cara dia menatapku. Bukan karena dingin, tapi karena ada luka lama yang baru saja terbuka kembali.
“Apa kau masih mau bilang ayahmu tidak terlibat?”
Aku menggeleng cepat.
“Ada yang salah.”
“Semua bukti selalu mengarah ke keluargamu.”
“Aku tidak percaya!”
“Aku juga tidak ingin percaya!” bentaknya tiba-tiba.
Aku terdiam.
Napas Adrian terdengar berat. Rahangnya mengeras keras seolah dia sedang berusaha menahan sesuatu. Amarah, kehancuran atau mungkin keduanya.
Lalu pelan-pelan dia berkata, “Dan itu yang paling membuatku marah.”
Hening.
Aku menatap pria di depanku itu tanpa tahu harus berkata apa. Aku sadar Adrian tidak hanya dipenuhi dendam. Dia juga dipenuhi kebingungan. Dan orang yang bingung sekaligus terluka bisa menjadi sangat berbahaya.
---
Perjalanan pulang jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Aku terus memikirkan isi dokumen tadi. Ibunya Adrian tidak meninggal karena bunuh diri melainkan karena ada kandungan racun ditubuhnya dan orang terakhir yang tertangkap bersamanya adalah ayahku.
Kepalaku terasa penuh.
“Aku ingin bicara dengan ayahku,” kataku akhirnya.
“Tidak.”
Aku menoleh tajam.
“Kau tidak bisa melarangku.”
“Aku bisa.”
“Adrian—”
“Kau belum sadar?” suaranya rendah. “Kalau informasi itu bocor sekarang, orang yang mencuri file tadi akan bergerak lebih cepat.”
Aku menggigit bibir.
Dia benar dan aku membencinya.
“Kita diawasi,” lanjutnya.
“Kau yakin?”
Tatapannya beralih ke kaca spion mobil.
“Aku tidak pernah suka kebetulan.”
Aku mengikuti arah pandangnya. Sebuah mobil hitam berada beberapa kendaraan di belakang kami. Awalnya tampak biasa, namun mobil itu tetap mengikuti bahkan setelah kami berbelok tiga kali.
Jantungku mulai berdetak cepat.
“Adrian…”
“Aku tahu.”
Nada suaranya berubah dingin total.
Kepada sopirnya dia berkata, “Percepat.”
Mobil langsung melaju lebih cepat, namun kendaraan hitam itu tetap mengikuti.
“Siapa mereka?” tanyaku pelan.
“Entah.”
“Bagaimana kalau—”
“Diam.”
Aku langsung menutup mulut. Bukan karena takut, tapi karena aku melihat sesuatu di wajah Adrian yang belum pernah kulihat sebelumnya. Insting yang tajam dan mematikan.
Mobil kami memasuki jalan yang lebih sepi dan tiba-tiba—
BRAK!
Sebuah mobil lain muncul dari samping dan menabrak keras bagian belakang kendaraan kami. Aku menjerit refleks. Mobil berguncang hebat.
“Pegangan!”
Tubuhku terlempar ke samping saat sopir mencoba mengendalikan mobil. Suara rem berdecit keras. Jantungku seperti mau keluar.
Dan sebelum aku sempat bernapas lega—
Dor!
Suara tembakan memecah udara.
Aku membeku.
“Turun!” bentak Adrian.
“Apa?!”
“SEKARANG!”
Dia menarik tubuhku turun tepat saat kaca mobil pecah akibat tembakan kedua. Aku menahan napas.
Oh Tuhan.
Ini bukan kecelakaan.
Seseorang benar-benar mencoba membunuh kami.