Wajah Elang berpaling sedikit ketika mendapat tamparan itu. Rasanya ada kebas dan panas yang bercampur ketika ia mendapatkan serangan tiba-tiba dari Senja. Dalam beberapa detik lamanya, Senja memperhatikan tangannya sendiri. Apa yang sudah ia lakukan? Kenapa perempuan tersebut berani berbuat sejauh ini? Senja menggeleng. Ia tidak percaya dengan dirinya sendiri. Ada sedikit sesal karena gegabah melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan. Pandangan perempuan tersebut naik. Ia masih membisu. Namun, bibirnya bergetar, seolah hendak mengatakan sesuatu. Barangkali permintaan maaf atau sebuah ungkapan penyesalan. Aka tetapi, ada sesuatu yang menahannya hingga kalimat itu seperti tersangkut di tenggorokan. “Untuk pertama kalinya kamu berani memukul saya, Senja.” Perempuan itu tid

