Rasa mual ini membuatku jauh lebih irit untuk berbicara. Aku pun tak suka memegang ponsel, karena membaca huruf yang kecil di layarnya otomatis membuatku mual. Hingga kuminta Gita yang memegang ponselku dan membalaskan jika ada pesan yang masuk. Tampak dari dalam ruang keberangkatan seorang lelaki berkulit putih, bertubuh tegap, dan tinggi berjalan menghampiri kami. Dia mendorong sebuah kursi roda. Setelah berada di sebelahku, dia menyapa sambil tersenyum. "Gita dan Tante, ini boarding passnya. Mari Mbak Puspa, naik ke kursi roda. Saya bantu mendorong sampai ke tangga pesawat." "Makasi, ya, bli Gede. Ibu dan mbak Rina, kenalkan ini teman kuliah Gita dulu. Namanya Gede. Karena asli pulau Bali, kita memanggilnya Bli Gede." Bli Gede tersenyum dan mengatupkan kedua telapak tangan di depan