Sonya berada di suatu tempat pengasingan. Setelah evakuasi pertolongan datang, dokter muda itu meminta tim kesehatan untuk membawa Sonya ke tempat khuss dan kembali ke negaranya.
Ya, Sonya tinggal di tempat khusus untuk orang - orang yang mau sembuh dari sakitnya. Bukan sembuh tital.setidaknya penyebarannya tidak bebas ke semua orang.
Menurut dokter obgyn yang memeriksa kondisi Sonya. Ada baiknya bayi itu di keluarka secara sesar dan di usia sudah cukup sekitar usia tujuh bulan. Hal ini mengurangi resiko penularan virus terhadap bayi yang di kandungnya selain Sonya harus mencegajnya dnehan meminum obat setiap hari.
"Hei ... cemberut saja," tanya dokter muda itu pada Sonya yang seringkali terlihat termenung dan melamun. Ada yang masih mengganjal di hati Sonya. Ia ingin sekli bertemu Cantika.
Sonya menoleh ke arah dokter muda itu dan berusaha tersenyum manis lalu membalas sapaan itu.
"Hai ... sudah selesai kerjanya," sapa Sonya kembali berbasa -basi.
"Ini untuk kamu. Biar gemuk," goda dokter muda itu memberikan satu kantung plastik berisi makanan ringan.
"Terima kasih. Kamu selalu baik dan lerhatuan sama aku," ucap Sonya pelan.
Ia membuka bungkusan plastik itu dan mulai menikmati makanan yang ada di dalamnya. Kebetulan perutnya mulai lapar ingin ngemil sesuatu.
Dokter muda itu hanya mengangguk kecil.
"Kamu sedang mikir apa? Jangan banyak mikir. Kalau ada seauatu bilang saja, bicara pada saya," ucap Dokter muda itu terus mencoba berusaha menyelidiki siapa Sonya itu.
"Aku ingin bertemu seseorang. Namanya Cantika dan suaninya namanya Bagus. Kalau tidak salah ia keturunan ningrat," ungkap Sonya sudah tak kuasa lagi menahan rahasia besar ini. Sudah seharusnya dan secepatnya Sonya mencari Cantika. Usia kandungannya makin besar dan semakin rentan.
"Cantika ... Bagus ... sepertinya lernah dengar. Coba nanti aku cari tahu. Seceoatnya aku kabarkan pada kamu, Sonya," ucap dokter muda itu penuh semangat.
"Terima kasih dokter," ucap Sonya pelan.
Dokter muda ity terus mencari informasi sebanyak -banyaknya tentang Sonya. Ia ingin beritahukan perihal kesehatan Sonya yang terus memburuk. Makanya bayi itu harus segera di selamatkan.
Skip ...
Hari ini Raka harus kontrol di sebhah rumah sakit baru rujukan dari dokter Richard. Keberylan di negara Raka, ada rymah skait baru yang khusus menangani pasien yang memiliki riwayat lenyakit seperti Raka.
Bagus dan Raka sudah berada di rumah sakit. Mereka sengaja janjian di tempat yang di tuju dan bertemu dnegan dokter Daniel, dokter muda yang juga merawat Sonya.
Pelan tapi pasti. Dokter Daniel lamgsung menebak pasti saat ia tahu, bahwa Bagus yang di maksud Sonya adalah Bagus teman SMAnya.
"Daniel? Sejak kapan loe praktek di sini," tanya Bagus.
"Baru banget. Loe kenapa Ka? Kok bjsa begini?" tanya Daniel pelan.
Raka hanya tersenyum kecut sambil menatap ke arah Bagus.
"Semua salah gue. Gue memang pantas di salahkan," ucap Bagus sendu.
Bagus menceritakan smeuanya pada Daniel dari awal hingga akhir tapa ada yang di tutupi. Termasuk soal Sonya.
"Sonya? Gue punya pasien namanya Sonya. Dia lahi hamil dan usia kandungannya sama persis dengan yang kalian ucapkan. Perangainya pun sama persis. Dia mantan wanita malam? Dia penyebar virus itu " tanya Daniel mulai paham.
"Gue boleh lihat?" tanya Raka pada Daniel.
"Boleh. Ayo," ajak Daniel pelan.
Daniel menunjukkan Sonya pada Bagus dan Raka. Keduanya langsung membetukkan bahwa itu adalah Sonya yang ia cari. Mereka ingin mengambil bayi yang di kandung Sonya.
"Sonya mencatmri Cantika. Kalian bawa saja Cantika ke tempat ini," ucap Daniel pelan.
"Tidak bisa. Istriku kondisinya lemah. Ia gampang lelah sekarang karena tiga buaha hari di dalam rahimnya," Bagus pelan.
"Weh ... Congrats ... tiga buah hati sekaligus. Hebat," ucap Daniel sambil bertepuk tangan.
Ketiganya menyusun rencana yang baik dan tepat tanpa ada meleset. Daniel menyarankan Cantika hadir saat Sonya melahirkan. Lebih baik selama ini buka komunikasi melalui telepon saja. Untuk saling memberikan motivasi. Keadaan sebenarnya juga bisa di ungkap nanti saja jika semua sudah selesai. Jangan menambah masalah baru dengan beban baru.