Cantika sudah berbaring di ranjang ruang periksa. Bagus tetap setia menemani Cantika. Cantika terlihat tenang dan santai. Mungkin karena Cantika sudah pasrah lada hidupnya. Walaupun harapan selalu ada, tapi Cantika sudah tidak mau berharap banyak untuk hal itu. Dokter obgyn itu bernama Riana. Ia membuka kemeja Cantika di bagian bawa untuk menampilkan kulit perutnya lalu di beri jel untuk di USG. Gerakan tangan dokter Riana terus berjalan ke kiri dan ke kanan hingga ke bawah sambil membaca apa yang terlihat di monitor. Wajah doktet itu tampak tenang dan terlihat semburat senyum di sudut bibirnya yang berwarna merah. Bagus menjadi semakin tak karuan jantungnya malah terus terpacu berdetak keras. "Gimana dok?" tanya Cantika mulai penasaran. Cantika tak paham membaca hasil yang muncul di

