Sonya terdiam di kamar yang sudah satu bulan lebih ini ia tinggali. Tubuhnya makin kurus dan tirus. Benih yang tertanam di perutnya juga mulai tumbuh kembang dengan baik. Ada perasaan hancur dan ada perasaan bersalah pada Cantika. Malam adalah sebuah malam kesalahan yang tak pernah termaafkan oleh Sonya sendiri. Ia terlalu mudah menerima kontrak titipan benih yang berujung malapetaka bagi banyak orang dan bayi yang di kandungnya. Air matanya terus luruh mengaliri pipinya yang mulai terlihat cekung. Bu Mur setiap pagi, siang dan sore selalu mwngantarkan makanan dan menyuapi Sonya yang sama sekali tidak mau beranjak dari kamarnya. "Nanti sore waktunya periksa kandungan dengan Pak Mur. Biar Nona Sonya di antar Pal Mur," ucap Bu Mur mengingatkan. Sonya hanya menghembuskan napasnya kasar.

