Ponsel Bagus terus berdering keras dan nyaring. Suaranya memekakkan twlinga dan menggema di seluruh ruangan kamar apartemen Bagus dan Cantika. Keduanya baru saja memejamkan mata dan melepas semua lelah yang berujung kenikmatan itu. Cantika masih nyenyak dengan tubuh polos yang di dekap erat oleh Bagus dan tenggalam di d**a kekar yang keras seperti beton namun memberikan kenyamanan tersendiri. Bagis mencari ponselnya di nakas dengan satu tangan yang terus mencari keberadaan ponsel yang makin terdengat berisik dan mengganggu. Saat ponsel sudah berada dalam genggamannya. Bagus menatap nama yang tertera dalam layar ponsel itu. "Bunda? Kenapa?" ucap Bagus liruh. Sayup terdengar nama Bunda di sebut pelan. Kesua mata Cantika pun membuka. Pikirannya masih setengah sadar dan bum.sepenuhnya bi

