Rio memasuki ruangan yang sudah didiami Zita selama tiga bulan lamanya. Istrinya itu masih enggan untuk bangun. Kedua matanya seolah terekat oleh lem yang sangat ampuh untuk merekatkan apa pun. "Aku kembali datang dear, bagaimana keadaan kamu? Maaf kalau waktuku harus terbagi. Kamu tahu kan bahwa aku harus menjaga putri kecil kita. Tapi percayalah, aku tidak pernah melirik wanita lain. Tetap kamu yang selalu di hati aku, Ta." Rio mengecup punggung tangan Zita berulang kali. "Kemarin Sinah dan Ikbal menikah, Vita sangat cantik sekali saat mendampingiku menghadiri pernikahan mereka. Vita benar-benar mirip sepertimu, lembut dan enggak banyak tingkah." Rio terus saja bermonolog, berharap Zita akan membuka kedua kelopak matanya dan bangun untuk memeluknya. Lagi dan lagi Rio harus menahan isa

