Refi menggeram sambil memejamkan kedua matanya menahan emosi. Kalau Refi tidak ingat bahwa wanita yang ada di dalam gendongannya ini adalah istrinya, sudah dapat dipastikan Refi akan melemparnya ke jalan raya saat ini juga tanpa belas kasihan. "Ulfa sayang, buka pintunya." Refi masih mencoba bersabar akan sipat keras kepala Ulfa. "Gue enggak mau! Lo punya tangan sendiri." Ulfa menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Dug! "Refi lo bego! Kepala gue kejedot kaca spion oon!" ini melebihi suara speaker dangdutan di lapangan yang sedang melaksanakan lomba tujuh belas agustusan. Tanpa menanggapi teriakan dan protesan Ulfa lagi, Refi langsung memasukkan Ulfa ke dalam kemudian memasangkan seatbelt tanpa berbicara sepatah kata pun. Brak! Ulfa kaget setengah kepalang saat Refi menutup pint

