Dua pria berbadan tegap itu kini bergerak gelisah. Berjalan kesana-kemari dengan memegang ponsel yang masih menempel di telinga mereka. Berbicara dalam bahasa asing yang untung saja masih bisa kumengerti namun tidak begitu kudengar. Sejak Elsa memerintahkan mereka menghubungi orang yang bernama Mario Richardo, mereka jadi asyik sendiri dengam ponsel masing-masing. Memangnya siapa Mario? Memangnya kenapa juga mereka harus menuruti perintah Elsa. Awalnya aku bisa melihat keraguan di wajah Dewa dan Richard, tapi itu hanya sesaat. Tidak sampai satu menit mereka langsung beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel masing-masing untuk menghubungi entah siapa. "Bagaimana hasil pemeriksaan tadi, Els?" tanya Brook pada Elsa. "Dokter Damian mengatakan itu hanya inveksi, Brook," jawab Elsa tenang.