Bab 19. Aku Bukan Barang “Kamu mau apa?” Liora menelan saliva. Jarak antara dirinya dan Revan tinggal sejengkal. Napasnya yang panas menyengat kulitnya. Matanya, yang dulu selalu memandangnya dengan rindu, kini seperti dua bilah belati yang hendak menikam. “Aku cuma bicara jujur, Van.” Liora berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski jantungnya berdebar kencang. “Kamu marah karena aku mengatakan hal yang benar.” “Benar?” Revan mendesis. Tangannya mencengkeram lengan Liora. “Yang benar adalah kamu masih memikirkan dia. Setiap hari. Aku bisa rasakan. Kamu tidur di sampingku, tapi pikiranmu melayang ke dia.” Liora menarik napas dalam-dalam, mencoba melepaskan cengkeraman itu. “Kamu gila.” “Mungkin,” gumam Revan, tiba-tiba melepaskan pegangan dan tertawa hampa. Ia berbalik, merapikan

