Bab 4. Janji yang Menyesatkan
“Aku harus pulang. Duh, kenapa tadi aku nggak iyain aja, sih, ajakannya Reza.”
Liora menutup pintu rumah Revan dengan napas tersengal. Rambutnya masih berantakan, pipinya merah, matanya penuh panik. Revan menyusul dari belakang sambil menarik napas panjang, mencoba menenangkan detakan jantungnya.
“Reza pasti marah banget.” Liora membalikkan badan, suaranya naik setengah oktaf. “Dia nggak mungkin maafkan aku. Kamu nggak lihat matanya?
Revan menahan bahunya, mendorongnya perlahan ke sofa kecil di pojokan kamar. “Tenang. Aku akan urus. Dia nggak bakal perpanjang masalah ini dan ngomong ke siapa pun.”
Liora memijat keningnya. “Dia suamiku. Kalo dia—”
“Aku tahu.” Revan duduk di sebelahnya. “Aku tahu dia suamimu. Tapi apa kamu kira dia masih bisa mikir jernih setelah kejadian tadi?”
Liora mengatup bibir. “Reza pasti benci aku.”
Revan tersenyum miring. “Dia terlalu baik buat benci siapa pun. Aku kenal dia, kata benci tak pernah ada dalam kamusnya. Ia meraih dagu Liora, mengangkatnya sedikit agar menatapnya. “Kamu lupa? Reza cuma bikin kamu merasa bersalah. Ia terlalu lembut. Terlalu polos. Kamu butuh seseorang yang tahu apa yang kamu mau.”
Liora mundur setengah jengkal, menatap lantai. “Tadi… dia lihat semuanya. Habis aku. Pasti aku dicerai.”
“Aku rasa begitu.” Reva tersenyum smirk. Ia menaikkan alisnya yang sebelah kiri.
Hening sejenak menelan mereka. Liora menggigit kukunya, mencoba mengatur napas. Pikirannya berputar. Ia ingin marah pada Revan, namun tubuhnya gemetar sebagai tanda ia masih tidak mampu menolak. Ada sesuatu dari Revan yang selalu menariknya, sekaligus membuatnya takut.
Revan memindahkan sepatunya yang tadi tergeletak di lantai, menendangnya jauh agar keluar dari pandangan. “Kamu tahu apa yang paling bikin aku heran?”
“Apa?”
“Kamu masih ragu sama aku.” Revan melipat kedua lengannya. “Kita sudah sejauh ini. Kamu sudah sejauh itu tadi. Namun kamu masih mikirin perasaan Reza.”
Liora terdiam. Ups. Luka yang sama tiba-tiba menusuk balik.
Revan mencondongkan tubuh.
“Apa kamu nggak bosan terus-menerus bermain petak umpet kayak gini? Bukankah kamu yang bilang, kalau hidup bersama Reza duniamu datar dan monoton.”
“Iya, sih. Ta-tapi aku—”
“Aku bicara apa adanya.” Revan menghela napas panjang. “Dia terlalu baik. Terlalu datar. Kamu butuh sesuatu yang hidup dan memicu adrenalin.” Revan menunjuk d**a sendiri. “Kamu butuh ini. Kamu tahu.”
Liora memalingkan wajah. “Aku…aku nggak tahu. Akul bingung.”
Revan menyentuh rambutnya yang kusut. “Bingung?” Setelah semuanta Lio? Kita sudah setahun melakukan ini? Lepaskan Reza. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau Reza tidak bisa memenuhi nafkah lahirmu. Itu makanya kalian sedang ribut. sedangkan nafkah batin juga standar aja.”
Liora tertunduk, yang dikatakan Revan benar adanya. Sungguh ia tak ingin melepaskan Revan. Dunia bisa ia genggam bila bersama Revan, pun dengan urusan pergulatan di peraduan. Beda dengan Reza.”
“Lio, kamu harus sadar hidup kamu bisa lebih baik dari sekarang.” Revan memegang bahu Liora erat, ada sedikit tekanan dalam pegangan itu. Memaksa Liora untuk mengangguk.
Liora terpaku pada kalimat itu. Ada suara kecil dalam dirinya yang membenarkan kata-kata Revan. Namun ada bagian lain yang menolak keras. Akan tetapi suara tolakan itu terlalu lemah saat ini.
Revan berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit. “Kamu tau kan posisi keluargaku? Kamu tau apa yang akan aku warisi.”
“Aku nggak mikirin itu…”
“Jangan bohong!” Revan menatapnya. “Semua orang mikirin itu. Termasuk kamu.” Ia berjalan kembali ke hadapannya. “Aku akan jadi pewaris satu-satunya. Semua usaha Papa akan jatuh ke tanganku. Rumah, tanah, tabungan, perusahaan… semua.” Revan berbalik menatap tajam ke Liora.
“Bukankah karena itu, makanya kamu naik ke ranjangku? Jadi jangan katakan bukan karena itu. Munafikmu cukup di depan Reza saja. Bukan denganku. Untungnya aku memang menyukaimu dari awal.”
Liora terdiam. Ia tidak sanggup membantah. Luka batin bercampur bayak rasa. Namun rasa lelah karena hidup pas-pasan membuatnya rapuh.
Revan duduk di sebelahnya lagi. “Kamu nggak harus stuck sama hidup kecil itu. Kamu bisa hidup nyaman. Gak perlu takut masa depan. Gak perlu nurunin kepala tiap Reza nyuruh kamu sabar.”
“Aku, ahh, gimana kalau dia ceraikan aku, Van?”
“Lho, ya, cerai! Ada aku di sini. Apa kamu mau dengan kami berdua! Jangan gak waras, kamu!” Revan menyentuh tangan Liora. “Kamu pantas dapat yang lebih. Jadi, kamu harus milih, dan dari sekarang kamu sudah tahu siapa yang akan kau pilih.”
Liora menunduk lama sekali. “Reza orang baik.”
“Aku gak bilang dia jahat. Cuma dia bukan buat kamu.” Revan menahan jemarinya. “Aku lihat cara kamu menatapku tadi. Terus bagaimana cara kamu menatap Reza. Di sana hanya ada rasa kasihan, bukan cinta. Cinta dan rindumu hanya untukku.”
Liora menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Aku gak tahu. Aku pusing, aku bingung.”
“Secara gak langsung, kamu udah berpikir matang.” Revan menyingkirkan tangan Liora perlahan, menatap matanya. “Kamu sudah di sini. Kamu sudah pilih datang ke gudang itu bersamaku.”
Liora tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca, bukan menangis, melainkan takut pada dirinya sendiri.
Revan tahu dia sudah menang setengah langkah.
“Gini,” ucap Revan lebih pelan. “Kalau kamu mau keluar dari hidup itu, aku bisa bantu. Serius.” Ia menyandarkan punggung. “Tinggalin dia. Kamu bisa tinggal sama aku.”
“Revan…” Liora memejam. “Kamu cuma ngomong karena momen tadi.”
“Apa momen tadi? Kita bukan sekali atau dua kali melakukan itu, Li?” Revan meraih tangannya. “Aku udah lama suka kamu.”
Liora terkejut. “Ya, karena selama ini kita aman. Tapi, tadi—”
“Cukup! Hentikan. Sekarang terserah kamu. Kalau masih mikirin Reza, silakan pergi.*
Liora terdiam. Napasnya naik turun cepat. “Reza pasti gak mau terima aku. Aku juga sebenarnya suka kamu. Kamu adalah semuanta yang kumau. Hanya saja aku malu jika dicerai.”
“Bagus.” Revan melepaskan napas samar. “Kita nggak perlu drama. Besok kita ke pengadilan urus surat gugatan cerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan.”
Suasana kamar mendadak pekat. Liora meremas ujung roknya, matanya bergetar.
“Aku takut, Revan. Gimana kalau Reza berbalik menyerang kita karena kejadian tadi?”
“ Hei, emangnya dia lihat apa? Tenanglah, aku ada buat kamu.” Revan menyentuh pundaknya. “Kamu gak sendiri.”
Hening. Detik demi detik terasa panjang. Liora menahan napas, seperti sedang berdiri di tepi jurang. Namun ia tidak ingin bergerak menjauh dari Revan.
Revan tersenyum samar. “Satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kamu tahu kan Mama bakal dukung aku sepenuhnya dalam warisan itu? Kamu nggak perlu khawatir tentang posisi kamu nanti.” Revan meraih rambut Liora dan merapikan seluruh kusutnya. “Kamu bisa hidup enak sama aku.”
Liora mengangguk lemah. Tidak menjawab apa pun. Tidak menolak. Tidak membenarkan. Namun caranya bersandar beberapa sentimeter lebih dekat sudah cukup untuk membuat Revan yakin ia menguasai keadaan sepenuhnya.
Namun ada sesuatu lain di dalam kamar itu. Sebuah ketegangan kecil yang tiba-tiba muncul. Seolah ada mata yang mengawasi.
Revan menegakkan tubuh.
“Kamu dengar ngak?” ia bertanya pelan.
Liora mengangkat kepala. “Apa?”
Revan memasang telinganya ke arah pintu. “Kayak ada suara langkah.”
Liora menegang. “Reza?”
“Mana mungkin dia balik.” Revan menggeleng cepat.
Namun dentingan kecil terdengar. Seperti sesuatu jatuh ringan di sisi luar kamar.
Liora berdiri spontan. “Revan, jangan bercanda.”
“Aku gak bercanda.”
Suara lain mengikuti. Tidak keras. Namun cukup jelas.
Ketukan.
Tiga kali.
Pelan.
Rapi.
Teratur.
Liora memegangi d**a. “Siapa itu? Jangan bilang ada warga yang grebek kita. Aku gak mau malu.”