BAB 5 – Jejak yang Tertinggal
“Sst! Berisik kamu! Sikapmu ini yang buat orang makin panik.” Revan menghentak tangan Liora yang memegang ujung kemejanya.
Revan berjalan ke pintu, mengintip lewat sela kecil. Wajahnya langsung berubah.
“Revan?” Liora meraih lengan bajunya. “Siapa?”
Revan tidak menjawab. Tubuhnya membeku. Namun tatapannya membaik, seolah ia baru menemukan jalan keluar dari seluruh kekacauan.
Liora mendorongnya sedikit. “Revan, siapa?”
Revan akhirnya berbisik, hampir tanpa suara.
“Mama.”
Ketukan terdengar lagi, lebih tegas kali ini.
“Revan, buka. Mama tahu kamu di dalam.”
Liora membatu. Revan menatap pintu dengan campuran lega dan cemas.
Lalu suara lembut itu datang lagi, dari balik kayu berwarna coklat yang diukir dengan indah.
“Mama mau bicara.”
Hening menyusup di koridor rumah Revan. Lampu dinding menyala samar, menghadirkan bayangan yang bergerak setiap kali angin malam menyusup lewat ventilasi.
Alena berdiri di depan pintu rumah putranya, menunggu setidaknya ada suara dari dalam. Sudah lima menit ia mengetuk, memanggil, menunggu, memanggil lagi.
Tidak ada jawaban.
Tenggorokannya mengering. Tangannya perlahan turun dari gagang pintu. Mata Alena mengerjap, memaksakan senyum tipis seolah meyakinkan diri sendiri bahwa Revan hanya tidur. Atau mungkin sedang mandi. Atau mungkin sedang… apa saja yang membuatnya tidak membukakan pintu.
Ia mundur selangkah. Lalu dua langkah. Napasnya panjang. Ada sesuatu yang tidak beres malam itu. Kecemasan merayap dari ujung jari sampai ke d**a.
“Baiklah. Mama pulang dulu,” bisiknya sambil setengah memaksa suaranya terdengar tenang.
Ia berbalik dan berjalan menyusuri halaman. Malam itu terasa ganjil. Setiap helaannya dipenuhi firasat, namun ia menyangkalnya demi menjaga kewarasannya sendiri. Pintu pagar ditutup perlahan, lalu mobilnya melaju pergi dari rumah Revan.
Dalam rumah itu, di balik pintu yang tak dibukakan, Revan berdiri menatap punggung ibunya dari balik jendela. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi. Liora duduk di sofa dengan mata sembab. Rambutnya berantakan. Dia masih memeluk lutut setelah debat panjang yang terjadi semenit setelah Reza pergi.
“Aku sudah bilang, jangan takut,” suara Revan terdengar rendah sambil berjalan ke arahnya.
Liora mendongak. “Apa Mama kamu setuju? Secara aku, kan.”
Revan berhenti tepat di depannya.
“Jangan ngomong tentang siapa kamu. Mungkin Mama kenal Reza, tapi mereka hanya dua kali bertemu. Mama gak kenal kamu.”
“Sama aja kalau gitu. Pasti suatu hari aja ketahuan. Reza pasti akan….”
“Diam dan tenanglah. Aku yang akan urus semuanya. Kita akan hancur, kalau kita menyerah. Kamu pikir aku bohong waktu bilang aku sayang sama kamu?” Hentakan nada tinggi keluar begitu saja. Sepertinya Revan hampir hilang kesabaran.
Liora menelan saliva. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Revan sejak kejadian tadi. Nada suaranya tak lagi lembut. Lebih seperti ancaman yang dibungkus kalimat manis. Namun hatinya yang rapuh mencari tempat berpijak dan Revan menyuguhi itu dengan lihai.
“Kamu cuma takut,” Revan duduk dan menarik dagunya. “Reza pengecut. Dia sudah lari. Itu bukti dia bukan pria yang tepat untukmu.”
“Dia suamiku,” gumam Liora.
“Suami yang mana? Yang tinggal di kontrakan? Yang tidak bisa kasih kamu masa depan? Atau yang biarkan kamu kerja lembur sampai sakit? Apa itu hidup yang kamu mau?”
Liora menunduk. Napasnya sesak.
“Dengar. Kamu pilih aku,” Revan melanjutkan. “Hidup kamu bakal berubah total. Kamu gak mikir kenapa aku dapat akses ke semua aset keluarga? Karena aku satu-satunya pewaris yang layak.”
Mata Liora terangkat. “Pewaris… satu-satunya?”
“Semua ini milikku nanti,” Revan menyapu pandangan ke ruangan luas itu. “Dan kamu ikut di dalamnya. Kamu bakal hidup enak. Tidak perlu takut lagi hidup miskin atau dihina.”
Suara Liora pecah halus. “Aku takut, Van.”
Revan mendekat, menangkup wajahnya. “Kamu cuma belum terbiasa. Setelah ini, kamu akan paham.”
Liora membiarkan dirinya jatuh dalam genggamannya, separuh karena butuh sandaran, separuh karena takut menolak.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu depan.
Liora tersentak keras. Revan berdiri cepat, wajahnya berubah tegang.
“Mamamu lagi,” bisik Liora panik.
Revan menempelkan telunjuk ke bibirnya dan melangkah perlahan menuju pintu. Ketukan kedua terdengar. Lebih keras. Lebih tegas.
“Revan. Buka pintunya. Mama tahu kamu belum tidur.”
Revan menutup mata sejenak, meredam emosi. Lalu ia meraih gagang pintu dan membukanya sedikit. Hanya cukup untuk menampakkan setengah wajahnya.
“Mama ngapain balik lagi?”
Alena terpaku sejenak. Aroma tak sedap dari tubuh Revan tercium samar menyelinap keluar dari ruangan itu. Ia mengernyit.
“Kamu yakin baik-baik saja?” Alena memperhatikan mata putranya yang kemerahan. “Kamu tidak terlihat—”
“Aku cuma capek.”
Alena mengambil napas untuk membalas, namun Revan sudah menutup celah pintu sedikit lebih sempit.
“Mama pulang saja. Ini sudah malam.”
Alena memandanginya dalam kebingungan, kemudian pasrah. “Kalau kamu butuh sesuatu, telepon Mama. Tunggu, biasanya kamu suruh mama nginap, tumben kali ini beda?”
“Lagi pengen sendiri, Ma.” Revan terus berada di depan pintu, seakan-akan memberi kode kalau tidak boleh ada yang masuk.
“Oke. Mama cuma ma bilang kalau teman—”
“Ma, aku capek. Besok aja kita ngobrol, ya. Besok aku pulang kerumah Mama.” Tanpa basa-basi, Revan langsung menutup pintu.
Alena meghea napas panjang. Karena khawatir, sebagai seorang ibu dia rela putar arah kendaraan, dan balik ke rumah Revan. Ternyata respon putranya di luar dugaan. Alena hanya menggelengkan kepala. Padahal, ia berniat mengajak Revan pulang, untuk menemani Reza yang sepertinya sedang terpuruk.
Dari balik pintu, Liora duduk gemetar. Revan berbalik menuju sofa dan berdiri di depannya.
“Besok aku mau kerumah Mama. Kamu di sini aja. Atau besok mau kerja? Kalau iya, kamu sana istirahat lebih dulu. Pakaianmu yang bersih masih ada di lemari.”
Liora mengangguk pelan meski pikirannya tak sepenuhnya ikut.
Malam itu berakhir tanpa jawaban pasti. Hanya bayang-bayang keputusan buruk yang semakin melekat.
---
Rumah Alena sunyi ketika mobilnya berhenti di garasi. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Ia meletakkan tas dengan gerakan lambat, merasa tubuhnya lebih lelah dari biasanya. Ada sesuatu yang begitu mengganggu, namun ia belum tahu apa.
Saat melintas menuju dapur, ia mendengar suara berat dari dalam kamar tamu. Suara itu seperti rintihan yang menahan sakit. d**a Alena menegang.
Ia membuka pintu sedikit. Cahaya dari lorong menerobos masuk, menyingkap sosok lelaki yang meringkuk di atas ranjang tamu.
Reza.
Pelipis Alena langsung berdenyut.
Tubuh Reza gemetar hebat. Napasnya tersengal. Wajahnya merah dan basah oleh keringat. Ia seperti tidak sadar keberadaan siapa pun di sekelilingnya.
“Ya Tuhan,” bisik Alena.
Ia bergegas mendekat, menaruh telapak tangan di dahi Reza. Kulit itu panas bagai terbakar. Reza mengerang lirih sambil memejam kuat.
Alena mengambil mangkuk, mengisi air hangat kuku tak lupa dengan handuk kecil. Ia menempelkan kompres ke dahi Reza yang panas.
Reza menggeleng lemah. Tangan Alena memegangi wajahnya agar tetap tenang.
“Reza. Hei. Kamu dengar aku?”
Reza tidak menjawab. Matanya terpejam. Tubuhnya bergetar. Napasnya kacau.
Dalam igauannya, gumaman pecah keluar dari bibirnya. “Kalian jahat! A-aku bencii!”
Alena menahan napas. Luka itu dalam sekali.
Ia mengompres dahi Reza lagi, kali ini lebih pelan. Tangannya bergerak lembut, mencoba meredakan suhu tubuh yang mengamuk.
Tiba-tiba tangan Reza terangkat dan meraih pergelangan Alena. Gerakannya tidak sadar, refleks penuh ketakutan. Tubuh Reza bangkit sedikit dan memeluk Alena begitu erat seolah hidupnya bergantung pada itu.
“Jangan tinggalin aku. Tolong di sini sebentar.” Nada suara Reza serak, karena isakan. Nyaris seperti bocah.
Alena membeku. Waktu seakan berhenti berputar.
Pelukan itu terlalu erat, sedu sedan itu begitu menyayat. Namun, Alena merasakan desiran aneh yang menjalar di aliran darah.
“Tolong, aku kedinginan.” Reza semakin erat memeluk Alena. Bahkan wajahnya ia benamkan ke ceruk leher wanita itu. Alena terperangah.