Bab 6. Di Antara Dua Nafas
“Jangan pergi. Tolong. Di sini saja. Aku kedinginan”
Reza tidak sadar siapa yang ia peluk. Ia hanya menggenggam satu-satunya kehangatan yang menyentuhnya malam itu.
Alena menatap ke depan, terkejut sampai ke tulang. Hatinya berdebar. Bukan, ini bukan debaran seorang ibu terhadap anak. Ini berbeda. Tubuh Reza bergetar di pelukannya. Suara isaknya menyusup ke bahu Alena, membuat napasnya terhenti.
“Aku hancur,” gumam Reza dalam igauannya. “Tolong aku.”
Alena memejamkan mata. Tangannya akhirnya terangkat perlahan dan menyentuh punggung Reza, hanya untuk memberi tahu bahwa ia tidak sendirian malam itu.
Namun jauh di dalam dirinya, Alena tahu sesuatu telah berubah. Dan ia tidak siap menghadapi apa pun yang akan dibawa oleh perubahan
—-
Kamar tamu dipenuhi aroma tipis-tipis obat Paracetamol . Langit masih gelap, hanya garis cahaya lampu masuk dari sela tirai. Alena belum bergerak sejak Reza memeluknya. Ia duduk bersandar pada sandaran ranjang, sementara Reza tertidur dengan kepala menempel di pundaknya.
Napas Reza berat, sesekali patah. Tubuhnya masih panas, namun tidak sepanas tadi. Selimut menutupi hingga d**a, tetapi tangan Reza tetap menggenggam pergelangan Alena kuat sekali. Seolah kalau dilepas, hidupnya lenyap begitu saja.
Alena melihat wajah Reza dari jarak sedekat itu. Bibirnya pucat, rambutnya kusut, ada garis merah di bawah mata seperti ia menangis lama sekali sebelum akhirnya tumbang. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak, “Entah apa yang menimpa pemuda ini?” pikir Alena. Sayangnya ia belum bisa menebak.
"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini," gumamnya pelan.
Reza mengerang. Cengkeramannya semakin kuat. Alena menghela napas, meraih bantal dan menyelipkannya untuk menopang tangan Reza agar ia bisa berbaring lebih nyaman tanpa melepaskan pelukannya. Setelah itu, ia menurunkan tubuhnya perlahan hingga posisi mereka seperti dua orang yang sedang tidur berdampingan.
Awalnya Alena tidak bermaksud untuk tidur. Namun, rasa lelah yang menumpuk akhirnya menutup matanya.
Keheningan mengambil alih kamar itu.
---
Pagi datang dengan perlahan. Cahaya matahari menabrak wajah Reza yang masih setengah sadar. Ia mengerjap beberapa kali. Langit-langit ruangan tampak asing. Udara terasa berbeda. Dan hangatnya sesuatu di dekat tubuhnya membuatnya terdiam.
Saat ia menoleh, jantungnya melonjak.
Alena terbaring di sampingnya. Lengan Reza masih melingkari pinggang wanita itu. Wajah Alena hanya beberapa sentimeter darinya. Rambutnya berantakan, sebagian jatuh menutup pipinya.
Reza langsung melepaskan pelukan itu. Gerakannya tergesa. Selimut tersingkap setengah.
“A-aku... ini...” Reza menelan saliva, wajahnya memerah dan pias di saat bersamaan. “Maaf. Aku gak sadar. Sungguh, aku gak ada maksud...”
Alena membuka mata karena suara panik itu. Ia duduk perlahan, merapikan rambut sambil memijat pelipis.
“Kamu demam tinggi semalaman,” ujar Alena dengan suara serak pagi. “Kamu gak mau dilepas. Kamu teriak-teriak. Kamu minta aku jangan pergi.”
Reza menunduk. “Maaf banget, Tante.”
Alena menatapnya lama. Ada kekhawatiran, ada iba, ada sesuatu lain yang sulit dijelaskan.
“Reza,” ucapnya pelan. “Kamu ingat apa saja dari semalam?”
Reza menggeleng lambat. “Cuma... dingin. Sesak. Gelap.”
“Kamu peluk aku erat sekali, lho. Kamu bahkan menangis.”
Reza menyentuh wajahnya. Sisa keringat dingin masih terasa. “Aku bikin Tante gak nyaman, ya. Sumpah, aku beneran gak sadar.”
“Tidak apa. Yang penting kamu aman.” Alena bangkit dan menaruh handuk kecil yang semalam ia pakai di mangkuk air yang sudah dingin. “Kamu mau mandi? Wajahmu pucat sekali.*
Reza menarik napas panjang. “Tante... semalam... aku ngomong apa?”
Alena duduk kembali. Tatapannya lembut, tetapi tegas. “Kamu bilang seseorang jahat sama kamu.”
Reza mengatupkan bibir. Ia memalingkan wajah, menahan sesuatu yang jelas sangat berat.
“Kamu boleh cerita. Kalau kamu mau.”
Reza tidak langsung menjawab. Ada keheningan yang panjang. Matanya menatap selimut seperti sedang memilih apakah ia akan jujur atau kembali menyimpan semuanya sendiri.
Akhirnya suara itu keluar.
“Aku kehilangan dua orang.” Reza tersenyum kecut. “Orang yang aku percayai dan orang yang aku cintai.”
“Apa dia menyakitimu?”
Reza mengangguk perlahan. “Aku pikir dia sayang... ternyata cuma pura-pura. Keduanya bermain hebat di belakangku. Bahkan—” Reza tercekat. Napas Reza goyah. Ia menelan perihnya sendiri.
“Aku cuma gak ngerti. Kenapa harus aku. Kenapa harus begitu, dan kenapa harus dia?”
Alena mencondongkan tubuh sedikit. “Dia? Orang itu masih dekat dengan kamu?”
“Masih. Sakitnya lagi aku harus puas dengan perlakuan mereka. Mereka tanpa berkata sudah menjelaskan semuanya.
“Kenapa gak marah?”
Reza menutup mata sejenak. “Kalau aku marah... semuanya bisa hancur.”
Alena tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia melihat sesuatu di mata Reza. Luka yang tidak sekadar kecewa. Luka yang membuat orang berubah dari dalam. Dendam.
“Reza, apa yang kamu ceritakan ini tentang istrimu? Apakah dia selingku?” Alena hampir berbisik. “Hempaskan semua. Selesaikan semuanya. Jangan biarkan dirimu berputar di pusaran nestapa. Kuat dan berani. Jangan terlalu baik dan selalu bersikap lembut.”
Reza tersenyum pahit. “Dulu mungkin. Sekarang gak akan.”
Kata itu membuat Alena diam. Ada getaran kecil di d**a yang tidak ia pahami. Ia meraih bahu Reza pelan.
“Kamu gak sendiri.”
Reza mendongak.
“Kalau kamu butuh tempat pulang... pintu rumah Tante tidak akan tertutup.”
Reza menatapnya dengan mata yang memerah, bukan karena suhu badannya yang belum reda, akan tetapi karena kelegaan yang mendadak. “Terima kasih... Tante.”
Ia hendak menunduk, tapi Alena menahan dagunya sebentar. Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk membuat keduanya menyadari ada sesuatu yang berubah sejak malam lalu.
Alena melepaskannya perlahan. “Pergi mandi dulu. Nanti Tante siapkan sarapan.”
Reza mengangguk dan berdiri dengan sedikit goyah. Alena memandanginya sampai ia masuk kamar mandi. Pandangan itu bukan hanya prihatin.
Ada rasa ingin melindungi. Terlalu kuat.
---
Pada saat yang sama, di sebuah rumah jauh dari sana, Revan membuka pintu kamarnya sambil tersenyum lebar.
Di meja makan sudah ada Liora dengan rambut yang dikucir rapi. Wajahnya segar. Senyumnya manis. Tetapi mata itu berbinar berbeda dari biasanya.
“Van, aku tadi buka laci kerja kamu,” ujarnya sambil memainkan kartu hitam tebal yang tampak baru. “Aku lihat ini.”
Revan mendekat sambil tertawa kecil. “Kartu itu buat kamu. Ambil aja.”
“Bener? Yang limitnya bisa buat aku belanja tanpa mikir?”
“Selama kamu sama aku, iya.”
Liora menahan tawa senang. “Gila, aku belum pernah lihat angka segitu.”
Revan memegang pinggangnya. “Biasakan saja.”
Liora menatapnya seperti seseorang yang baru menemukan surga yang ia cari seumur hidup. “Aku pikir aku sedang bermimpi.”
“Inilah kenyataan. Jadi kamu harus bangun.” Revan mendekat dan mencium lehernya. “Kita mulai hidup baru.”
“Menikah, lalu ceraikan Reza?” Liora bertanya tanpa rasa bersalah.
Revan tersenyum tipis. “Reza sudah selesai.” Ia mengambil secangkir kopi. “Dia bukan ancaman. Gak penting juga. Soal menikah, nanti dulu, sayang. Pastinya kamu bisa tinggal di sini.
“Kita aman, kah?” Liora menatapnya memastikan.
“Aman. Sekarang fokus ke masa depan. Sama aku.”
Liora mengangguk pelan. Senyumnya merekah. “Aku siap.”
Revan menariknya. “Bagus. Senin depan kamu ambil cuti, kita urus perceraian kamu dan Reza.”
Liora tersenyum dan mengangguk.
Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, beberapa kilometer dari sana, Reza sedang memandangi dirinya di cermin kamar mandi Alena dengan wajah lelah, namun matanya sudah tidak kosong seperti semalam.
Ada sesuatu yang tumbuh di sana. Rencana yang tidak pernah ia pikirkan. Reza menyeringai.