Bab 7. Mulai Terkuak
“Sepertinya akan menarik. Maaf, Revan. Kamu duluan yang menghancurkan hidupku. Perlahan tapi pasti, aku akan melakukan hal yang sama kepadamu.”
“Kamu ngomong sama siapa?”
Suara pintu berderit pelan. Alena masuk membawa semangkuk bubur hangat. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tampak lelah, namun tetap lembut ketika melihat Reza.
“Sepertinya tadi aku mendengar kamu berbicara?” ucap Alena sambil meletakkan mangkuk di meja kecil.
Reza yang baru saja keluar dari kamar mandi hampir saja limbung, karena pusing yang mendera kepalanya secara tiba-tiba. Alena langsung menopang punggungnya. Sentuhan itu membuat Reza terdiam sepersekian detik. Ada sesuatu di sana, perhatian yang tidak ia dapatkan selama bertahun-tahun.
“Tante tidak harus repot seperti ini,” Reza berkata pelan.
“Kalau bukan aku, siapa lagi?” Alena meraih sendok, mengaduk buburnya sebentar. “Makan sedikit. Obatnya baru bisa diminum setelah perutmu terisi.”
Reza menahan senyum kecil. “Terima kasih.”
Mereka diam cukup lama. Suasana hangat, namun samar-samar mengandung sesuatu yang rumit. Reza menatap Alena ketika wanita itu sibuk merapikan selimut.
“Aku boleh tanya sesuatu?” Suara Reza pelan, hati-hati, seolah ia hanya sekadar ingin tahu. Padahal rasa penasaran tinggi dan rencana sedang bermain di kepalanya.
Alena memandang, menunggu.
“Kenapa Tante dan Revan
tinggal terpisah? Terus, Tante sendirian di rumah sebesar ini?” Reza mencoba terdengar polos. “Apakah Papanya Revan begitu sibuk? Terus ada aku di kamar ini, dengan Tante langsung yang turun tangan merawatku, apa gak masalah?
Alena mendadak kaku. Helaan napas berat dan kerut kening yang susah untuk diartikan, hampir seperti ia sedang memilih kata-kata yang tidak ingin diucapkan.
“Kamu nanya langsung banyak gitu, gimana Tante mau jawab?
Reza tersenyum sambil mengusap leher belakangnya karena kikuk.
“Revan tinggal terpisah karena dia ingin bebas, dan tidak ingin Tante atur. Dia bilang, karena Tante terlalu banyak bicara makanya Papanya juga jarang pulang. Padahal bukan itu penyebabnya” jawab Alena akhirnya. Alena duduk di kursi berhadapan dengan Reza.
“Tante dan papanya Revan, tinggal terpisah. Sudah lama sekali. Sejak Revan masih usia tiga tahun. Dia tidak pernah lagi pulang. Sebelum meninggalkan Tante, dia memberi rumah ini, dan juga sebuah butik dan perusahaan kecil.”
Reza pura-pura mengernyit. “Terpisah? Bagaimana ceritanya?”
Alena tidak langsung menatapnya. Jemarinya meremas ujung selimut seolah cerita itu berat. Luka yang telah lama ia simpan, akankah ia ceritakan kepada teman anaknya sendiri. Namun, ada rasa nyaman saat ia mengeluarkan kisah luka itu.
“Tan, kalau memang berat, gak usah cerita. Maaf kalau aku kepo.” Reza yang melihat perubahan di raut wajah Alena, merasa iba. Reza merasa ada luka besar di kehidupan Alena. Tiba-tiba ponsel Alena berdering.
“Kamu istirahat dulu. Tante ada urusan, dan mau keluar sekalian bawa obat. Oh ya apakah Tante hubungi Revan aja, buat temani kamu di sini?”
“Hah?! Gak-gak usah, Tan. Jangan sekarang. Aku lagi gak mau ketemu siapa-siapa, Tante.”
Alena mengangguk paham. Ia pun menutup pintu.
Siang itu, Alena yang keluar belum kembali. Reza merasakan bosan. Ia berniat ingin ke luar kamar dan melihat-lihat. Karena meskipun ia da Revan berteman, akan tetapi Reza hanya dua kali datang ke sini. Itupun hanya duduk di ruang tamu dan kamar Revan.
Ketika ingin membuka pintu kamar, tiba-tiba Reza mendengar dua pelayan berbicara berdiri di depan kamar.
“Perasaan ada tamu di dalam sini, ya? Tapi, kok, Nyonya gak nyuruh kita apa-apa. Jangan-jangan.”
“Hust! Itu Mas Reza, temennya Tuan Revan. Tadi pagi Nyonya yang nyuruh aku masakin bubur. Kamu tadi kan ke pasar. Jangan ngomong sembarangan.”
“Berarti nanti Tuan Revan ke sini? Hadeh. Kalau Tuan Revan datang, pasti langsung berlagak seperti tuan muda besar. Beda banget sama Nyonya.”
“Iya, ya. Padahal katanya… dia itu anak yang gak dianggap sama Tuan besar. Buktinya selama kita kerja, Tuan Besar gak pernah ke sini. Kita hanya tahu dari cerita Mbok Imah aja.”
Langkah mereka pun menjauh. Reza terdiam.
Satu potongan informasi tadi pagi.
Satu lagi sekarang.
Dan semuanya mulai menyusun gambaran, meski samar. Namun, Reza masih ingin informasi langsung. Ia ingin Alena sendiri yang menyampaikan.
Reza tak jadi keluar,ia memilih menyandarkan kepala ke bantal. Matanya meredup, bukan karena sakit, tapi karena sesuatu di dalam benaknya sedang berpikir keras, dan bergerak perlahan. Seperti bayangan yang mulai memanjat dinding.
Pintu kamar kembali terbuka pelan, Alena telah kembali dengan membawa obat-obatan.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Reza tersenyum lembut. Senyum yang selama ini membuat orang merasa nyaman bila berdekatan dengannya, siapa pun itu. Karena pada dasarnya Reza memang berhati lembut.
“Dengan diizinkan istirahat di sini, dan Tante yang merawat, ya, aku baik-baik saja.”
Alena meletakkan obat di nakas. “Istirahat saja. Jangan terlalu banyak berpikir.”
Reza memejamkan mata, pura-pura patuh. Namun pikirannya tidak diam. Rasa penasaran makin mengganggu. Sedikit ujung bibirnya terangkat, ia mendapatkan ide.
“Tante, maaf aku jadi gak enak sama Revan.”
“Kenapa?” Dahi Alena mengernyit.
“Karena dia gak tahu aku di sini. Tapi, Tante kau beneran gak mau ada yang tahu. Aku lagi marah dengan dua orang, dan itu membuatku terluka.” Revan menatap ke langit-langit kamar.
“Baiklah, aku paham. Istirahatlah.”
“Tunggu, Tan. Gimana kalau tiba-tiba tanpa memberi kabar, suami Tante pulang dan mendapati aku di sini. Lebih baik aku pergi saja.” Reza refleks memegang pergelangan tangan Alena. Kala kedua kulit insan berlainan jenis itu bersentuhan, keduanya merasa bagaikan tersengat listrik yang membakar.
Alena berbalik. Ia menghela napas panjang. Reza spotan melepaskan pegangannya.
“Dia gak akan datang. Mungkin juga tak pernah kembali lagi.”
“Maaf, Tante.”
Reza menunduk, berpura-pura terkejut, padahal ia menelan informasi itu perlahan, menyimpannya dalam sisi gelap kepalanya.
“Berjanjilah kamu gak akan cerita apa pun ke Revan. Mungkin sudah saatnya luka ini aku obati dengan cara menceritakan ke kamu.”
Reza mengangguk pasti. Meski, isi kepala dan hatinya berisik serta bersorak kesenangan.
“Jadi, Tante benar-benar sendiri?” tanya Reza lebih lembut,
“Ya.”
“Apakah Revan tahu tentang ini?”
Alena menarik napas. “Tidak. Aku ditinggalkan hanya diberi rumah ini, butik, dan satu perusahaan kecil. Karena kesalahan yang terjadi di masa lalu. Mungkin itu semua sebagai kompensasi.”
Kesunyian turun seperti selimut yang berat.
Reza menatap wajah Alena yang menahan banyak hal. Ia ingin menyentuh punggung tangan wanita itu, namun menahan diri agar tidak terlihat terlalu cepat.
“Maaf aku menanyakan hal yang membuat Tante tidak nyaman,” ujar Reza pelan.
“Tidak apa,” Alena tersenyum samar. “Aku cuma tidak terbiasa menceritakan semuanya.”
Reza menatapnya lama, sesuatu berdenyut pelan di balik tatapannya, bukan sekadar iba, tetapi juga trik dan cara apa saja yang harus ia lakukan untuk meraih simpati Alena.
Saat Alena berdiri. Ada senyum tipis menghiasi wajah Reza. Bukan senyum yang manis.
Senyum seseorang yang baru menemukan celah pertama untuk menghancurkan musuh yang bahkan belum sadar ia sedang ditargetkan.
“Maksudnya, Tan? Kalian sudah bercerai?” Reza menggeser duduknya merapat sedikit ke Alena.
“Aku hanya wanita simpanan,” jawabnya lirih. “Wanita yang tak pernah dinikahi secara sah ataupun siri. Gimana ceritanya ada perceraian?”
Reza tersentak. Pandangannya nanar ke arah Alena. Ada sesuatu yang aneh ia rasakan di relung hati. Reza tidak merasa simpati, justru merasa kaget dan senang
“Berarti Revan?”
—-