Bab 8. Api Mulai Menjalar
“Ya, Revan anakku, tapi lahir bukan dari pernikahan. Tapi, dia gak tahu tentang ini. Pria itu bernama Suhendro Putro. Awalnya setelah kelahiran Revan, dia sangat menyayangi Revan. Meski tidak dinikahi, aku bahagia. Hingga akhirnya di usia Revan yang menjelang tiga tahun. Semuanya berubah.”
“Kenapa, Tan?” Reza begitu antusias, hingga Alena tersadar sudah kebablasan bercerita terlalu dalam. Ternyata ada sesuatu yang salah tentang kehidupan Revan yang sebenarnya.
“Kamu istirahat saja. Tante ada urusan di butik.”
Reza hanya tersenyum sambil mengangguk. Meski kecewa, namun ia mencoba bersabar.
—---
Pagi turun seperti kabut tipis di halaman rumah besar itu. Sinarnya lembut, tetapi tidak bisa menghangatkan d**a Reza. Ia bangun lebih cepat dari biasanya, wajahnya masih tampak pucat karena sisa demam kemarin, namun tatapannya telah berubah. Ada fokus baru di sana. Tenang. Tajam, dan terkendali.
Reza duduk di tepi ranjang sambil menatap cermin kecil di nakas. Ia merapikan rambutnya perlahan, menggenggam sisir itu seolah sedang memegang senjata kecil yang akan ia gunakan dengan cara paling halus.
“Revan… kita lihat siapa yang menang kali ini.”
Suara langkah terdengar dari luar. Reza buru-buru kembali berbaring. Pintu terbuka, memperlihatkan Alena dengan rambut yang masih sedikit basah dan wajah yang tampak lebih segar.
“Kamu sudah bangun?”
Reza menoleh perlahan. “Belum terlalu. Baru sadar beberapa menit.”
Alena menaruh nampan berisi roti panggang dan teh hangat. “Aku buat yang ringan saja. Kamu kelihatan masih pusing.”
Reza duduk dengan hati-hati. “Tante selalu perhatian. Belasan tahun aku tinggal dengan keluarga sendiri saja, tidak pernah ada yang begini.”
Alena menarik napas kecil. “Kamu harus makan.”
Reza mengambil roti. “Kalau boleh jujur, aku masih ingin dengar cerita Tante kemarin.”
Alena terdiam sepersekian detik. Sorot matanya berubah, seperti ada pintu lama yang kembali terbuka.
“Kamu tidak perlu tahu semuanya.”
“Kalau itu membuat Tante lega… aku ingin mendengarnya.”
Alena duduk di kursi dekat ranjang. Tangan wanita itu meremas ujung bajunya tanpa sadar. Reza memperhatikan detail kecil itu. Ia tahu kapan harus menekan, kapan harus menarik diri.
“Aku bertemu ayah Revan ketika masih sangat muda. Dia punya keluarga, tetapi membuatku jatuh dalam janji-janji yang tidak pernah ditepati.”
Reza mencondongkan tubuh sedikit, memberi kesan mendengar sepenuh hati.
“Setelah aku melahirkan Revan, aku diberi rumah ini dan ditinggalkan begitu saja. Tidak diceraikan, tidak diakui, tidak dilihat. Seperti aku ini bagian dari masa lalu yang memalukan.”
Reza menyentuh punggung tangan Alena pelan, memberi tekanan lembut. “Tante tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
Alena terkejut sejenak, namun tidak segera menarik tangannya dan tidak pula menjauh.
Reza menarik tangannya kembali pelan, seolah menghormati. Dalam kepalanya, ia menyimpan informasi itu seperti emas.
Perasaan empati yang ia tunjukkan bukan palsu sepenuhnya. Ada bagian kecil dalam dirinya yang benar-benar iba. Namun bagian terbesar adalah strategi, menginjak perlahan fondasi keluarga Revan dari sisi yang paling rapuh.
“Kalau selama ini Tante sendirian, bagaimana dengan Revan?” tanya Reza.
“Revan tumbuh tanpa figur ayah. Aku sibuk dengan butik dan perusahaan kecil yang diberikan itu. Revan tumbuh keras, penuh kemarahan. Mungkin itu sebabnya dia selalu ingin menunjukkan dirinya lebih dari orang lain.”
Reza menatap meja, seolah sedang mencerna.
“Kemarahan Revan… sepertinya dia tumpahkan kepada orang yang salah.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Reza menggeleng kecil. “Aku pernah melihat Revan memperlakukan seseorang dengan buruk. Aku kira cuma karena sifat anak manja. Tapi setelah dengar cerita Tante, aku pikir itu sesuatu yang lebih dalam.”
Alena menatap Reza dalam-dalam. “Kamu sepertinya tahu banyak.”
“Tidak banyak.” Reza tersenyum samar. “Namun aku tahu rasa ditinggalkan dan dicampakkan itu seperti apa.”
Hening turun beberapa detik. Alena menyandarkan punggungnya pada kursi, seolah beban selama bertahun-tahun menekan dadanya.
“Nanti siang aku harus ke butik. Kamu cukup istirahat di sini,” ucap Alena.
“Aku boleh ikut?”
Alena heran. “Kamu masih sakit.”
“Tubuhku sakit. Namun kepalaku bosan. Lagipula aku gak enak, disini terus.”
Alena menimbang-nimbang. Reza tahu itu. Ia menambahkan sedikit tekanan.
“Kalau aku pusing, aku duduk saja. Janji.”
“Aku pikir-pikir dulu. Kamu makan dulu.” Alena berlalu keluar dari kamar.
Reza menuruti. Namun dalam kepalanya, ia sudah merancang langkah selanjutnya.
---
Menjelang siang, Alena bersiap keluar. Reza sudah berganti pakaian, dengan pakaian yang disediakan oleh Alnea. Kemeja putih bersih dan celana santai. Ia keluar dari kamar perlahan.
“Tante sudah siap?”
Alena terkejut melihat Reza berdiri di depan pintu, meski wajahnya masih terlihat lemah.
“Kamu yakin?”
“Kalau aku terus terbaring, kepalaku tambah berat. Aku bisa jalan, kok.”
Alena memperhatikan mata Reza. Ada ketulusan dan keteguhan di sana. Wanita itu akhirnya mengangguk.
Reza tersenyum kecil, senyum yang terlihat tulus di mata Alena, meski di baliknya ia menyusun strategi rapi.
---
Butik Alena tidak besar, namun tertata sangat anggun. Aroma parfum lembut mengisi ruangan. Alena berjalan ke meja kerja, sedangkan Reza duduk di sofa kecil sambil memperhatikan detail tempat itu.
“Ini… semua Tante bangun sendiri?” Reza menatap rak pajangan.
“Ya. Dari bawah.”
“Luar biasa.”
Alena terkesiap kecil. Ia tidak terbiasa mendengar apresiasi seperti itu dari siapa pun, termasuk anaknya sendiri.
“Kamu mau minum?”
“Boleh.”
Alena menghilang ke ruang belakang. Reza berdiri, berjalan pelan menyusuri butik. Ia menyentuh laci meja, melihat laporan keuangan yang tertata rapi. Ia tidak membuka, hanya mengamati.
Namun ia tahu satu hal: butik ini adalah kebanggaan Alena.
Jika ia memenangkan hati pemilik tempat ini, ia akan mendapatkan akses lebih luas ke kehidupan Revan. Informasi. Kekuasaan. Celah-celah yang bisa ia balikkan untuk menghancurkan musuhnya.
Reza menarik napas panjang, lalu kembali duduk sebelum Alena muncul.
“Maaf, agak lama,” Alena meletakkan teh panas di depan Reza.
Reza meraih gelas itu. “Tante kerja sendirian di sini?”
“Ada beberapa karyawan, tetapi mereka sedang libur hari ini.”
Reza mengangguk. “Butik ini terasa hidup. Mungkin karena Tante sendiri yang merawatnya.”
Alena tersenyum. “Terima kasih.”
Reza menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kalau suatu hari Tante butuh bantuan, aku siap.”
Alena terdiam. Suara di dalam dirinya berubah lembut.
“Kamu seharusnya fokus sembuh dulu. Oh ya, Bukankah kamu berkerja di perusahaan sama dengan Revan?”
“Sepertinya aku mau resign. Di sana udah gak nyaman. Aku bantuin Tante aja. Atau jadi supir pribadi juga boleh.”
“Loh, kenapa?” Alena mengernyit heran.
“ Ada dua orang di sana yang sudah membuat hatiku patah dan harga diriku hancur. Ijinkan aku ikut sama Tante. Aku juga mau bales Budi ke Tante.”
Alena menunduk, wajahnya memerah sedikit. Reza melihat itu dan hampir tersenyum puas, tetapi ia tahan. Ia tidak ingin terlihat.
“Aku boleh jujur?” ucap Reza rendah.
“Boleh.”
“Aku suka cara Tante memperhatikan orang lain. Itu sangat langka.”
Alena memalingkan wajah. “Kamu ini, bicara apa, sih.”
Reza hanya tersenyum.
Ia tahu sasaran sudah tepat.
---
Sore pun tiba. Reza dan Alena kembali ke rumah. Begitu masuk, aroma masakan dari dapur menyambut. Pelayan memberi salam hormat pada Alena.
“Aku ganti baju dulu. Kamu duluan ke ruang makan. Kita makan malam dulu,” ucap Alena sambil melepas sepatu.
Reza menahan pergelangan tangan Alena dengan pelan sama seperti kemarin, namun kali ini ia memastikan sentuhan itu tidak terlalu lama.
“Tante pasti capek. Makan dulu aja, Tan.”
“Gak enak kalau gak ganti salinan, Badan pada lengket.”
“Tante tetap cantik, kok. Ayo kita ke ruang makan sama-sama. Aku berasa kayak orang bego kalau duduk di sana sendirian. Ayo, dong, Tante.”
Reza memohon seraya bersikap manja. Membuat Alena tersenyum senang. Ia merasa dihargai dan dibutuhkan.
Alena tertawa kecil. “Ya sudah. Ayo.”
Mereka menuju ruang makan. Masakan sudah tersedia. Alena menyendokkan nasi dan sayuran untuk Reza. Sedangkan Reza duduk sambil mengamati. Ada kehangatan sederhana yang tidak pernah ia dapatkan dari istrinya dulu. Namun, kehangatan ini yang akan ia gunakan sebagai batu pijakan untuk rencana yang jauh lebih gelap.
“Sebenarnya aku masih kepikiran kalimat Tante semalam,” ucap Reza.
“Kalimat yang mana?”
“Kata-kata bahwa Tante cuma ditinggalkan begitu saja.”
Alena berhenti memotong. Mata wanita itu meredup.
“Itu sudah berlalu.”
“Namun luka yang berlalu tidak selalu sembuh.” Reza memancing Alena.
Alena menelan saliva. Membeku sabil berpikir keras.
“Kamu benar.”
Reza melihatnya. “Aku ingin Tante tahu satu hal.”
“Apa?”
“Tante tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, aku ada jika Tante butuhkan.”
“Tunggu dulu, setahu Tante kamu punya istri, kan? Kamu sudah dua malam gak pulang, apa istri kamu gak khawatir?”
Reza memejamkan mata pelan, bibirnya terangkat. Sedangkan di luar ada mobil yang masuk ke halaman rumah Alena.
---